Lagi-lagi teman saya…
Untuk bercinta modal cinta saja tidak cukup. Kali ini teman saya harus pergi karena harus mengejar mimpinya (yg akan berimbas pd cintanya). Jadi begini, abang (panggilan kami untuknya) berencana menikah akhir tahun ini. Dia lahir di tahun 1984, berarti tahun ini berumur 26 tahun. Umur sekian sudah bisa dianggap siap menikah. Abang juga sudah punya kekasih yang sudah lulus bahkan bekerja, dan hubungan mereka lebih lama dari saya mengenal teman saya ini (4 tahun lebih – saya tidak tahu tepatnya).
Untuk menikah, cinta saja tidak cukup. Kira-kira itu yang dipikirkan orang tua kekasih abang. Ada syarat yang diajukan calon mertua agar bisa menikahi anak perempuannya. Untuk itulah abang pergi, mencari apa yang mereka inginkan. Tak apa saya kehilangan teman satu kota karena dia berjuang di kota lain. Yang saya sayangkan adalah dia tidak berpamitan pada saya. Tapi dia sempat menghabiskan waktu bersama beberapa teman sebelum berpisah. Dia tidak memilih saya untuk ikut serta. Mungkin dia mengira saya tidak perduli.
Saya ingat terakhir kali bertemu dengan abang. Ialah saat perjalan ke wates mengambil kaset mini DV. Kami satu mobil, berempat. Ada yudhi dan Qirun juga. Memutar lagu2 Sheila on 7lewat mp4 yang disambungkan ke speaker mobil, saya dan dia menyanyi bersama. Hanya kami berdua yang hafal syair lagu2 ciptaan Eros. Dan kami adalah sheilasonic. Puas sekali menyanyi bak artis kamar mandi. Lalu puisi Soe Hok Gie yang Cahaya Bulan. Sesekali kami berdua hafal syairnya. Hari itu kami sangat kompak. Hal yang jarang sekali terjadi.
Akhirnya semua akan tiba pada hari yag biasa
Pada suatu ketika yang sudah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu?
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
Lembah mandala wangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu?
Ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat…
Apakah kau masih akan berkata?
Ku dengar derap jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta…
Itu terakhir bertemu dia, tanpa pamit dia pindah ke Jakarta. Demi cintanya. Terakhir dia menepon saya memakai hp Qirun. Hanya menanyakan saya dimana. Dia mengira saya di wates padahal saya di jogja. Lalu cepat2 menutup telepon setelah tahu. Dan sehari sebelum berangkat, sempat chating melalui fb. Mengomentari gunung purba yang baru saja saya daki. Dia juga marah karena tidak mengajaknya. Padahal saya kira dia tidak akan perduli, saya jadi menyesal tidak menawarinya. Walaupun saya resmi bukan panitianya. Saya juga belum "ngeh" ketika membaca statusnya di hari keberangkatannya. "Adios Amigos". Saya cuma bilang pada teman kost saya(Neeta) kalau artinya sampai jumpa.
Saya baru tahu ketika Qirun yang mengantarnya ke stasiun menelepon untuk persoalan yang lain. Tidak dapat saya menuliskan perasaan saya waktu itu. Kehilangan pasti. Saya lalu comment pada statusnya. Luph you bradeeer. Ganbate!! Kalau dia baca mungin dia akan terharu. Mengingat dia merasa saya tidak perduli dan baru pertama kali saya bicara kalau saya perduli padanya seperti comment saya itu. Dia bisa terharu, mungkin juga tidak.
Ini tentang teman saya yang 4 tahun lebih saya kenal. Anggota kelas kami hanya berjumlah 20 orang. Empat tahun cukup untuk membuat kami mengenal satu sama lain dan beberapa dari kami dapat sampai pada tahap saling memahami. Orang-orang yang sampai pada tahap ini memiliki kebiasaan yaitu meluangkan waktu bersama. Tidak heran kami menjadi lebih sering memahami (tapi juga perlu diingat bukan berarti kami seiya sekata seperti anggapan teman yang tidak bisa sampai pada tahap memahami). Sekarang kebersamaan kami pun telah pudar. Tidak ada lagi brain stroming program, diskusi, gojek kere, tukar cerita dan saling menghina. Hal langka yang seandainya ada terjadi lagi pasti karena keajaiban. Karena inilah saya mengenal teman saya…
Saya tidak akan menyebutkan namanya tetapi saya dan beberapa teman saya memanggilnya "Yank". Bukan dari kata sayang yang sering digunakan ABG untuk memanggil pacarnya. Sebutan ini memiliki histori sendiri. Waktu itu semester lima (saya ingat karena waktu itu proyek kami music show, tugas live studio pertama kami). Saya dan yank tidak satu kelompok. Kelas kami dibagi dua kelompok. Jadi saya tidak mengikuti kisah percintaanya dengan pacarnya yang telah kandas. Dia meminta mantannya untuk kembali melalui sms dan sms tsb juga di kirim ke beberapa teman (saya baca walaupun tidak ikut di kirim sms). Dari situ saya tahu kalau dia cowok melankolis. Singkat cerita dia ditolak karena mantannya tidak mau disakitinya lagi. Setelah itu, kami (alias beberapa cewek yang sampai pada tahap memahami) mendapatkan limpahan kasih sayang dari dia. Dari situ kami menambahkan "penyayang" di belakang namanya. Di singkat "yank".
Tidak seringnya saya bertemu dia saat ini karena sama-sama tugas akhir membuat saya rindu sekali padanya. Susah untuk melupakan teman yang kadang membuat saya merasa sangat disayang dengan kata-kata dan perbuatannya. Dan apabila saya lupa, ada saja yang mengingatkan saya aka dirinya. Yaitu Naff. Ada lagu naff yang "dia banget". Saat mendengarkan lagu ini saya selalu teringat padanya bahkan saya berimajinasi kalau dia yang menyanyikan. Menurut saya, syair ini cocok sekali dengan dia dan bahkan saya tidak punya alasan yang logis dan akurat kenapa lagu ini membawa pikiran saya pada teman penyayang saya ini.
Temani… temani aku…
Bila nanti kau milikku
Bila nanti aku milikmu
Mencintaimu kurasakan begitu indah
Kasih sayang mu kurasakan sungguh sempurna
Ku bahagia bila ragamu disampingku
Ku merasa bila tanganmu memeluku
Temani… temani aku
Menyayangimu kulakukan setulus hati
Mengagum imu membuatmu merasa tenang
Ku bahagia bila ragamu disampingku
Ku merasa tenang bila tanganmu memelukmu
Bila nanti kau milikku
Temani aku saat aku menangis
Bila nanti aku milikmu
Temani aku hingga tutup usiaku
Hanya begitu syairnya, diulang-ulang sepanjang lagu. Sederhana dan tulus. Itulah teman saya, yank. Yang setelah ditolak mantannya tidak pernah jatuh cinta lagi. Cinta matinya sudah menyerah padanya. Saya tidak tahu bagaimana nanti kisahnya. Dia tidak mungkin baca blog saya tapi saya tetap akan bilang "I LOVE YOU, YANK".
Kami sama-sama sedang mengerjakan Tugas akhir, berbeda saya yang terserang syndrome males, dia lebih bersemangat. Paling tidak dia mengingatkan Wendy untuk segera menyelesaikan laporannya, memantau kirun sampai mana. Dan menelepon saya untuk menanyakan "sudah bimbingan belum?". Saya akan bilang "belum", dia akan membantai saya "males banget tho koe!!!" tidak terhitung berapa kali dia bertanya dan mengatakan kalimat bantaian tersebut.
Saat kami berdua diperpus kampus kami mengobrol dan sedikit memancingnya bicara asmara.
N : Pacarmu sekarang siapa yank?
Yank : Ga punya. Ga mau nikah muda aku.
N : Eh tiiiit(sensor) jomblo lho!
Yank : Penulis Naskah Malaikat (aku maksudnya) juga jomblo kok
N : (hmmm ini dia yang termasuk sifat yank : pintar membuat kita tersipu)…………!!!!










