• Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download
facebook twitter instagram linkedin

nanda pangesti

Fyuh susah juga ya jadi SPT? Sarjana sain Penyiaran Terapan! Sarjana muda. Saya nggak merasakan sendiri sih! Belum pantas mungkin gelar SPT di belakang nama saya. Melihat kalian sajalah dulu.

Saya bisa melihat susahnya cari kerja. Sampai pada rela daftar di perusahaan yang notabene bukan broadcast abis. Saking putus asanya. Komentar seorang teman melihat fenomena ini. Kerjaan juga jodoh. Yang penting kerja aja dulu. Cari yang cocok nanti. Gapapa sambil cari kerjakan apa yang ada di depan mata walaupun jauh dari apa yang kita pelajari dari kemarin. Sarannya boleh dicoba. Selamat berburu…

Ketika yang bertemu SPT yang sudah dapet kerja, bukannya berbagi pengalaman malah melontarkan pertanyaan yang sama dengan SPT yang belum dapet kerja. Tau info lowongan nggak? Aduh, mana getehe'. Sebenarnya ada apa sih? Iseng-iseng mengusut, banyak alasan di belakang tingkah teman-teman saya ini. Yang paling aneh, teman saya yang bekerja di salah satu PH Jogja. Dari teman kantornya, teman saya mendapat nasehat. Jangan sampai kamu ketauan punya keahlian lain (bisa mengerjakan selain profesimu di kantor) atau yang akan terjadi kamu akan dijadikan sapi perah. Dia juga bilang kalau kerjaannya sangat tidak efisien. Menghitung pengeluaran bisa tiga sampai empat kali sehari (seingetnya bos). Ada lagi, gaji dia habis di potong oleh bosnya tanpa sebab yang jelas. Rumit! Untuk mempermudah teman saya cari kerja lagi. Kalau sudah dapat langsung resign. Hahahaaa jadi inget nasib yang belum dapat kerja!

Pusing liat kalian semua! Yang belum dapat kerja mukanya burem. Yang udah dapet ada aja yang bikin gak cocok meskipun bidangnya udah broadcast. Yang bukan broadcast juga, dari awalkan tahu kalau yang dilamar bukan bidang kita tapi bukan alasan tetep ngeluh ya. Come On!

Segitu doank mental kalian? Kalo kata Novan Minggo (haloo Anto'…hehe) jadi orang jangan suka ngeluh. Seberat apapun itu! (Bagian ini kata-kata saya bukan novan) Tunjukin keahlianmu bahkan nggak cuma didepan bos mu. Kalau perlu depan para karyawan lain, client atau orang yang kebetulan aja mampir ke kantor. Nasehat dari teman kantor itu salah besar. Jangan bilang nggak bisa, kalau emang bener-bener nggak bisa minta diajarin dulu. Ayoooo dong semangaaaaat!!! Dunia kerja sebenarnya memang berat! Inget kalian SPT yang memang dirancang untuk menghadapi ini. Jangan cengeng. Udah dapat kerja mbok ya disyukuri. Liat yang pada belum dapat kerja pada ngeces. Skali lagi smangaaaat!!!!

Salam Penuh Cinta kawan!

nanda

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Lagi-lagi teman saya…

Untuk bercinta modal cinta saja tidak cukup. Kali ini teman saya harus pergi karena harus mengejar mimpinya (yg akan berimbas pd cintanya). Jadi begini, abang (panggilan kami untuknya) berencana menikah akhir tahun ini. Dia lahir di tahun 1984, berarti tahun ini berumur 26 tahun. Umur sekian sudah bisa dianggap siap menikah. Abang juga sudah punya kekasih yang sudah lulus bahkan bekerja, dan hubungan mereka lebih lama dari saya mengenal teman saya ini (4 tahun lebih – saya tidak tahu tepatnya).

Untuk menikah, cinta saja tidak cukup. Kira-kira itu yang dipikirkan orang tua kekasih abang. Ada syarat yang diajukan calon mertua agar bisa menikahi anak perempuannya. Untuk itulah abang pergi, mencari apa yang mereka inginkan. Tak apa saya kehilangan teman satu kota karena dia berjuang di kota lain. Yang saya sayangkan adalah dia tidak berpamitan pada saya. Tapi dia sempat menghabiskan waktu bersama beberapa teman sebelum berpisah. Dia tidak memilih saya untuk ikut serta. Mungkin dia mengira saya tidak perduli.

Saya ingat terakhir kali bertemu dengan abang. Ialah saat perjalan ke wates mengambil kaset mini DV. Kami satu mobil, berempat. Ada yudhi dan Qirun juga. Memutar lagu2 Sheila on 7lewat mp4 yang disambungkan ke speaker mobil, saya dan dia menyanyi bersama. Hanya kami berdua yang hafal syair lagu2 ciptaan Eros. Dan kami adalah sheilasonic. Puas sekali menyanyi bak artis kamar mandi. Lalu puisi Soe Hok Gie yang Cahaya Bulan. Sesekali kami berdua hafal syairnya. Hari itu kami sangat kompak. Hal yang jarang sekali terjadi.

Akhirnya semua akan tiba pada hari yag biasa

Pada suatu ketika yang sudah lama kita ketahui


 

Apakah kau masih selembut dahulu?

Memintaku minum susu dan tidur yang lelap

Sambil membenarkan letak leher kemejaku


 

Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih

Lembah mandala wangi

Kau dan aku tegak berdiri

Melihat hutan-hutan yang menjadi suram

Meresapi belaian angin yang menjadi dingin


 

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu?

Ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra

Lebih dekat…

Apakah kau masih akan berkata?

Ku dengar derap jantungmu


 

Kita begitu berbeda dalam semua

Kecuali dalam cinta…

Itu terakhir bertemu dia, tanpa pamit dia pindah ke Jakarta. Demi cintanya. Terakhir dia menepon saya memakai hp Qirun. Hanya menanyakan saya dimana. Dia mengira saya di wates padahal saya di jogja. Lalu cepat2 menutup telepon setelah tahu. Dan sehari sebelum berangkat, sempat chating melalui fb. Mengomentari gunung purba yang baru saja saya daki. Dia juga marah karena tidak mengajaknya. Padahal saya kira dia tidak akan perduli, saya jadi menyesal tidak menawarinya. Walaupun saya resmi bukan panitianya. Saya juga belum "ngeh" ketika membaca statusnya di hari keberangkatannya. "Adios Amigos". Saya cuma bilang pada teman kost saya(Neeta) kalau artinya sampai jumpa.

Saya baru tahu ketika Qirun yang mengantarnya ke stasiun menelepon untuk persoalan yang lain. Tidak dapat saya menuliskan perasaan saya waktu itu. Kehilangan pasti. Saya lalu comment pada statusnya. Luph you bradeeer. Ganbate!! Kalau dia baca mungin dia akan terharu. Mengingat dia merasa saya tidak perduli dan baru pertama kali saya bicara kalau saya perduli padanya seperti comment saya itu. Dia bisa terharu, mungkin juga tidak.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Ini tentang teman saya yang 4 tahun lebih saya kenal. Anggota kelas kami hanya berjumlah 20 orang. Empat tahun cukup untuk membuat kami mengenal satu sama lain dan beberapa dari kami dapat sampai pada tahap saling memahami. Orang-orang yang sampai pada tahap ini memiliki kebiasaan yaitu meluangkan waktu bersama. Tidak heran kami menjadi lebih sering memahami (tapi juga perlu diingat bukan berarti kami seiya sekata seperti anggapan teman yang tidak bisa sampai pada tahap memahami). Sekarang kebersamaan kami pun telah pudar. Tidak ada lagi brain stroming program, diskusi, gojek kere, tukar cerita dan saling menghina. Hal langka yang seandainya ada terjadi lagi pasti karena keajaiban. Karena inilah saya mengenal teman saya…

Saya tidak akan menyebutkan namanya tetapi saya dan beberapa teman saya memanggilnya "Yank". Bukan dari kata sayang yang sering digunakan ABG untuk memanggil pacarnya. Sebutan ini memiliki histori sendiri. Waktu itu semester lima (saya ingat karena waktu itu proyek kami music show, tugas live studio pertama kami). Saya dan yank tidak satu kelompok. Kelas kami dibagi dua kelompok. Jadi saya tidak mengikuti kisah percintaanya dengan pacarnya yang telah kandas. Dia meminta mantannya untuk kembali melalui sms dan sms tsb juga di kirim ke beberapa teman (saya baca walaupun tidak ikut di kirim sms). Dari situ saya tahu kalau dia cowok melankolis. Singkat cerita dia ditolak karena mantannya tidak mau disakitinya lagi. Setelah itu, kami (alias beberapa cewek yang sampai pada tahap memahami) mendapatkan limpahan kasih sayang dari dia. Dari situ kami menambahkan "penyayang" di belakang namanya. Di singkat "yank".

Tidak seringnya saya bertemu dia saat ini karena sama-sama tugas akhir membuat saya rindu sekali padanya. Susah untuk melupakan teman yang kadang membuat saya merasa sangat disayang dengan kata-kata dan perbuatannya. Dan apabila saya lupa, ada saja yang mengingatkan saya aka dirinya. Yaitu Naff. Ada lagu naff yang "dia banget". Saat mendengarkan lagu ini saya selalu teringat padanya bahkan saya berimajinasi kalau dia yang menyanyikan. Menurut saya, syair ini cocok sekali dengan dia dan bahkan saya tidak punya alasan yang logis dan akurat kenapa lagu ini membawa pikiran saya pada teman penyayang saya ini.


 

Temani… temani aku…

Bila nanti kau milikku

Bila nanti aku milikmu

Mencintaimu kurasakan begitu indah

Kasih sayang mu kurasakan sungguh sempurna

Ku bahagia bila ragamu disampingku

Ku merasa bila tanganmu memeluku

Temani… temani aku

Menyayangimu kulakukan setulus hati

Mengagum imu membuatmu merasa tenang

Ku bahagia bila ragamu disampingku

Ku merasa tenang bila tanganmu memelukmu

Bila nanti kau milikku

Temani aku saat aku menangis

Bila nanti aku milikmu

Temani aku hingga tutup usiaku


 

Hanya begitu syairnya, diulang-ulang sepanjang lagu. Sederhana dan tulus. Itulah teman saya, yank. Yang setelah ditolak mantannya tidak pernah jatuh cinta lagi. Cinta matinya sudah menyerah padanya. Saya tidak tahu bagaimana nanti kisahnya. Dia tidak mungkin baca blog saya tapi saya tetap akan bilang "I LOVE YOU, YANK".

Kami sama-sama sedang mengerjakan Tugas akhir, berbeda saya yang terserang syndrome males, dia lebih bersemangat. Paling tidak dia mengingatkan Wendy untuk segera menyelesaikan laporannya, memantau kirun sampai mana. Dan menelepon saya untuk menanyakan "sudah bimbingan belum?". Saya akan bilang "belum", dia akan membantai saya "males banget tho koe!!!" tidak terhitung berapa kali dia bertanya dan mengatakan kalimat bantaian tersebut.

Saat kami berdua diperpus kampus kami mengobrol dan sedikit memancingnya bicara asmara.

N : Pacarmu sekarang siapa yank?

Yank : Ga punya. Ga mau nikah muda aku.

N : Eh tiiiit(sensor) jomblo lho!

Yank : Penulis Naskah Malaikat (aku maksudnya) juga jomblo kok

N : (hmmm ini dia yang termasuk sifat yank : pintar membuat kita tersipu)…………!!!!

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

Hai. Namaku Nanda. Anaknya suka cerita lewat tulisan dan suka belajar tentang kehidupan. Terima kasih sudah mampir, ya!

Follow My Instagram

  • Instagram

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • ▼  2019 (4)
    • ▼  September (1)
      • Review Drama Arthdal Chronicles
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
  • ►  2018 (16)
    • ►  December (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (7)
    • ►  February (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  November (2)
  • ►  2013 (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2012 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  February (3)
  • ►  2011 (18)
    • ►  November (5)
    • ►  October (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (3)
  • ►  2010 (13)
    • ►  December (1)
    • ►  March (11)
    • ►  January (1)
  • ►  2009 (3)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2008 (1)
    • ►  December (1)

Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose