• Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download
facebook twitter instagram linkedin

nanda pangesti

  Hugh Jackman as P.T. Barnum
Saat seseorang diremehkan, ia justru akan termotivasi agar lebih sukses di masa depan. Namun orang itu harus tahu kapan harus berhenti. Karena mengejar pengakuan orang lain tidak ada habisnya. Dan itu bisa berbalik menghancurkanmu. 

The Greatest Showman ternyata terinspirasi dari kisah nyata, Bapak Sirkus Dunia P.T. Barnum. Ia salah satu orang terpenting di Dunia Sirkus. Walaupun sebenarnya saya tidak begitu menyukai sirkus. Pertama dan terakhir nonton saat SD. Bukannya terhibur, justru nguap beberapa kali dan ingin segera pulang. Tentu sirkus yang saya tonton jauh berbeda dengan Sirkus "The Greatest Show" ini ya. Pendapat saya tentang sirkus saat ini sudah berubah. Dari bukan pertunjukan yang menyenangkan menjadi pertunjukan yang mengeksploitasi binatang. Intinya masih sama. Tidak suka.

Tapi jangan salah. Menurut saya film ini sangat menyenangkan dan menyentuh. Barnum yang diperankan aktor kesayangan Hugh Jackman, merupakan orang yang mampu melihat keahlian seseorang di balik kekurangannya. Ia mempersatukan orang-orang buangan dan membuat mereka memiliki panggung mereka sendiri. Wow!

Latar belakang Barnum sendiri adalah seorang anak tukang jahit selalu diremehkan. Bahkan oleh ayahnya sendiri. Ketika menjadi gelandangan setelah ayahnya meninggal, seseorang berwajah buruk rupa memberinya buah apel. Mungkin sejak itu, Barnum mampu melihat hal baik di balik orang yang terlahir tidak sempurna.

Saat dewasa, ia nekat menikahi gadis dari keluarga kaya yang sudah dicintainya sejak kecil dan memiliki dua anak. Pada wanita yang dicintainya, Barnum menjanjikan kebahagiaan. Sirkus dimulai saat ia kehilangan pekerjaan. Ia meminjam uang di Bank dan mempersatukan orang-orang yang terbuang karena kondisi fisik mereka. Barnum memanfaatkan kekurangan mereka untuk menarik penonton. Dan berhasil.

 Salah satu anggota sirkus. Pria yang tingginya tak lebih dari 1 meter.

Wanita yang memiliki jenggot. Dan masih banyak lagi.

Barnum tak lepas dari kontroversi karena show-nya. Masyarakat Amerika jaman itu menganggap atraksi "orang-orang aneh" ini adalah hal yang memalukan. Protes makin menjadi karena kritikus menyebut Barnum "Sirkus Primitif dari Penipu". Jahatnya media sudah ada di era itu, yang akhirnya memancing orang kelas bawah bertindak anarkis. Nasib para anggota sirkus masih saja dihina seperti sebelumnya. Tetapi setidaknya Barnum memberi mereka keluarga dan panggung. Barnum sendiri akhirnya menjadi orang kaya yang bisa membeli rumah mewah dekat orang tua istrinya. Rumah itu sebagai cinta dan pembuktian.

Tapi pembuktian yang menurutnya istrinya lebih dari cukup itu belum membuat Barnum puas. Ia haus pengakuan. Dari orang-orang elit yang tak memandang Barnum serta orang tua istrinya. Hingga akhirnya semua yang telah ia bangun hancur secara perlahan. Barnum tidak tahu bagaimana berhenti. Ia juga jumawa karena apa yang ia bangun selalu berhasil.

Kisah lain yang tak kalah manis adalah percintaan Philips Carlyle dengan Anne Wheeler. Philips sebenarnya datang dari kaum elit. Barnum merekrutnya agar bisa menembus pergaulan kalangan atas. Ia jatuh cinta dengan Anne Wheeler. Percintaan orang kulit putih dengan kulit hitam dianggap aib di masa itu. Philips harus melepas semua yang dia miliki jika ingin bersama wanita yang dicintainya.

Film ini sangat mudah dinikmati. Dari awal sampai akhir kita akan dimanjakan dengan lagu bagus dengan suara merdu. Akting para pemain tidak perlu dilakukan lagi. Film ini perdana tayang Desember 2017 lalu.

Kalian udah nonton belum? :)

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

The real world never change. Still cruel.

Saya membaca beberapa review tentang film ini setelah menonton. Dan sedikit kaget karena apa yang mereka tangkap jauh berbeda dengan apa yang saya pahami. Namun hal itu justru menunjukan kualitas seorang Guillermo Del Toro sebagai seorang sutradara. Dan tulisan ini tentu saja hasil penangkapan saya.

Elisa, wanita bisu tokoh sentral dalam film ini, seakan representatif dari manusia yang dianggap lemah. Bisa jadi ia biasa saja menjalani hidupnya. Tak memerlukan belas kasian orang lain. Toh dia menikmati hidupnya tanpa banyak mengeluh. Ia bersahabat dengan pelukis tua yang tinggal di sebelah kamarnya. Dan juga wanita sesama janitor yang mampu memahami dan melindunginya. Meski hanya seorang janitor, Elisa mendapatkan tekanan dari pemegang jabatan tertinggi di tempat kerjanya. Ia merasa perlu meremehkan Elisa yang bisu karena ia sendiri mendapatkan tekanan dari orang di atasnya. 


Elisa kemudian jatuh cinta tanpa sengaja. Dengan makhluk aneh yang dibawa dari kawasan Sungai Amazon. Ia terlihat seperti ikan yang menyerupai manusia. Amerika berencana melakukan penelitian tentang makhluk ini. Sama seperti ikan lain dan Elisa, mereka tidak bisa bicara. Tetapi komunikasi keduanya justru terjalin dengan baik. 

Kehebatan Amerika membuat mereka merasa berhak membunuh makhluk ini untuk dijadikan bahan penelitian. Elisa tak tinggal diam. Elisa yang lemah, Elisa yang hanya seorang janitor berusaha menyelamatkannya. Menembus penjagaan ketat, hanya dengan bantuan pelukis tua yang gagal melawan modernisasi foto. Tanpa sengaja, ia juga mendapatkan bantuan dari mata-mata Soviet yang ironisnya digambarkan lebih memiliki hati daripada Pejabat Amerika.


Apa yang ingin disampaikan film yang berhasil membawa pulang Piala Oscar sebagai film terbaik ini, membuat saya terhenyak. Menyadari bahwa dunia tidak pernah benar-benar berubah. Film ini mengambil setting sekitar tahun 1960. Meski sekarang sudah beralih ke dunia yang jauh lebih modern, namun manusianya tetap sama. Kejam dan egois. 








Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Kehadiran Lady Bird sebagai film bergenre remaja seolah membawa angin segar. Telah lama genre ini didominasi cerita cinta-cintaan saja. Kalau pun mengangkat persoalan keluarga hampir semuanya diceritakan dengan formula yang sama. Itu pendapat pribadi sih. Karena terus terang, beberapa tahun belakangan malas dengan film bergenre remaja karena bosan.


Lady Bird sendiri merupakan nama yang dipilih oleh Christine, si tokoh utama dalam film ini untuk dirinya sendiri. Kebayangkan masa-masa dimana kita benci dengan nama pemberian orang tua. Ini merupakan satu di antara sekian banyak ketidakpuasan atas apa yang mereka berikan. Dari pemilihan nama tersebut menggambarkan pribadi Christine yang unik.


Ia memiliki hubungan yang rumit dengan Ibunya. Hal-hal kecil kerap membuat keduanya bertengkar. Christine berada di masa dimana ia tak ingin mendengarkan perintah apalagi omelan. Sementara Ibunya terus memancing perdebatan. Meski sebenarnya masih dalam porsi yang sangat wajar. Hubungan ini rasanya cukup membuat Christine ingin melanjutkan kuliah di New York agar jauh dari orang tuanya. Tentu saja ibunya melarang karena kesulitan finansial yang sedang dihadapi keluarga. Christine tetap pada pendiriannya dan mendaftar dengan bantuan Ayahnya.

Di sekolah Christine juga tak lepas dari pencarian jati diri ala remaja. Ingin diakui sekaligus dicintai. Dari mencari pacar hingga mencoba bergaul dengan murid paling tajir dan popular. Tetapi ia tak mencoba menjadi popular. Semata-mata yang dilakukannya untuk membuat masa remajanya lebih berwarna. Termasuk di dalamnya, keputusannya untuk memberikan keperawanannya di moment yang spesial.


Menonton perlakukan film ini, melihat bagaimana Christine memperlakukan Ibunya. Kita (wanita) akan dibuat serasa bercermin. Penyesalan Christine sama dengan yang kita rasakan setelah bertengkar dengan Ibu. Begitu pula, rasa sakit yang ia alami di akhir cerita. Justru karena keluarga, semakin sulit bagi kita untuk mengucap kata "maaf".

Sayangnya di ajang Academy Award 2018, Lady Bird gagal membawa pulang piala Oscar. Padahal banyak orang yang sangat ingin film ini menang. Meski tak memenangkan Academy Award, film ini layak mendapatkan apresiasi.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

Hai. Namaku Nanda. Anaknya suka cerita lewat tulisan dan suka belajar tentang kehidupan. Terima kasih sudah mampir, ya!

Follow My Instagram

  • Instagram

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • ▼  2019 (4)
    • ▼  September (1)
      • Review Drama Arthdal Chronicles
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
  • ►  2018 (16)
    • ►  December (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (7)
    • ►  February (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  November (2)
  • ►  2013 (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2012 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  February (3)
  • ►  2011 (18)
    • ►  November (5)
    • ►  October (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (3)
  • ►  2010 (13)
    • ►  December (1)
    • ►  March (11)
    • ►  January (1)
  • ►  2009 (3)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2008 (1)
    • ►  December (1)

Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose