• Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download
facebook twitter instagram linkedin

nanda pangesti

Ini tentang teman saya yang 4 tahun lebih saya kenal. Anggota kelas kami hanya berjumlah 20 orang. Empat tahun cukup untuk membuat kami mengenal satu sama lain dan beberapa dari kami dapat sampai pada tahap saling memahami. Orang-orang yang sampai pada tahap ini memiliki kebiasaan yaitu meluangkan waktu bersama. Tidak heran kami menjadi lebih sering memahami (tapi juga perlu diingat bukan berarti kami seiya sekata seperti anggapan teman yang tidak bisa sampai pada tahap memahami). Sekarang kebersamaan kami pun telah pudar. Tidak ada lagi brain stroming program, diskusi, gojek kere, tukar cerita dan saling menghina. Hal langka yang seandainya ada terjadi lagi pasti karena keajaiban. Karena inilah saya mengenal teman saya…

Saya tidak akan menyebutkan namanya tetapi saya dan beberapa teman saya memanggilnya "Yank". Bukan dari kata sayang yang sering digunakan ABG untuk memanggil pacarnya. Sebutan ini memiliki histori sendiri. Waktu itu semester lima (saya ingat karena waktu itu proyek kami music show, tugas live studio pertama kami). Saya dan yank tidak satu kelompok. Kelas kami dibagi dua kelompok. Jadi saya tidak mengikuti kisah percintaanya dengan pacarnya yang telah kandas. Dia meminta mantannya untuk kembali melalui sms dan sms tsb juga di kirim ke beberapa teman (saya baca walaupun tidak ikut di kirim sms). Dari situ saya tahu kalau dia cowok melankolis. Singkat cerita dia ditolak karena mantannya tidak mau disakitinya lagi. Setelah itu, kami (alias beberapa cewek yang sampai pada tahap memahami) mendapatkan limpahan kasih sayang dari dia. Dari situ kami menambahkan "penyayang" di belakang namanya. Di singkat "yank".

Tidak seringnya saya bertemu dia saat ini karena sama-sama tugas akhir membuat saya rindu sekali padanya. Susah untuk melupakan teman yang kadang membuat saya merasa sangat disayang dengan kata-kata dan perbuatannya. Dan apabila saya lupa, ada saja yang mengingatkan saya aka dirinya. Yaitu Naff. Ada lagu naff yang "dia banget". Saat mendengarkan lagu ini saya selalu teringat padanya bahkan saya berimajinasi kalau dia yang menyanyikan. Menurut saya, syair ini cocok sekali dengan dia dan bahkan saya tidak punya alasan yang logis dan akurat kenapa lagu ini membawa pikiran saya pada teman penyayang saya ini.


 

Temani… temani aku…

Bila nanti kau milikku

Bila nanti aku milikmu

Mencintaimu kurasakan begitu indah

Kasih sayang mu kurasakan sungguh sempurna

Ku bahagia bila ragamu disampingku

Ku merasa bila tanganmu memeluku

Temani… temani aku

Menyayangimu kulakukan setulus hati

Mengagum imu membuatmu merasa tenang

Ku bahagia bila ragamu disampingku

Ku merasa tenang bila tanganmu memelukmu

Bila nanti kau milikku

Temani aku saat aku menangis

Bila nanti aku milikmu

Temani aku hingga tutup usiaku


 

Hanya begitu syairnya, diulang-ulang sepanjang lagu. Sederhana dan tulus. Itulah teman saya, yank. Yang setelah ditolak mantannya tidak pernah jatuh cinta lagi. Cinta matinya sudah menyerah padanya. Saya tidak tahu bagaimana nanti kisahnya. Dia tidak mungkin baca blog saya tapi saya tetap akan bilang "I LOVE YOU, YANK".

Kami sama-sama sedang mengerjakan Tugas akhir, berbeda saya yang terserang syndrome males, dia lebih bersemangat. Paling tidak dia mengingatkan Wendy untuk segera menyelesaikan laporannya, memantau kirun sampai mana. Dan menelepon saya untuk menanyakan "sudah bimbingan belum?". Saya akan bilang "belum", dia akan membantai saya "males banget tho koe!!!" tidak terhitung berapa kali dia bertanya dan mengatakan kalimat bantaian tersebut.

Saat kami berdua diperpus kampus kami mengobrol dan sedikit memancingnya bicara asmara.

N : Pacarmu sekarang siapa yank?

Yank : Ga punya. Ga mau nikah muda aku.

N : Eh tiiiit(sensor) jomblo lho!

Yank : Penulis Naskah Malaikat (aku maksudnya) juga jomblo kok

N : (hmmm ini dia yang termasuk sifat yank : pintar membuat kita tersipu)…………!!!!

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Bukan bermaksud mencari mana yang lebih bagus. Cuma gatal ingin menelaah. Maaf kalau ada yang tersinggung.

Parfimm I diselenggarakan tanpa dukungan penuh (baca : dana) dari kampus. Saya yang waktu itu menjadi anggota tim kreatif diberi PR bagaimana menghidupkan acara tersebut. Berbekal pengalaman menjadi panitia “MMTC goes to city” kami menyusun acara Parfimm I.

Rencana awal, kami belum mendapat kabar bahwa pihak kampus hanya memberikan dana sekian alias minim. Jadilah kita bertiga, tim kreatif yaitu saya, Pradit dan Tuti merencanakan acara yang menyerupai OSCAR atau Grammy versi lokal tentunya. Ada red karpet, tanda tangan, foto tim perkomunitas dengan backdrop FFM, musik dan mengundang anak teater dari UIN. Teater menurut kami waktu itu adalah hal yang dekat dengan film. Dan teater UIN yang pernah kami undang pada “MMTC goes to city” menunjukkan kesan yang mendalam hingga saat ini. Kami ingin bekerja sama dengan mereka lagi tapi kali ini membuat seperti epic movie film-film yang didaftarkan acara ini. Baru kami mengusulkannya, kami sudah dapat kritikan yang intinya “apa penonton bakal menangkap maksud dari epic movie tsb karena baru menyaksikan film sekali yaitu pada saat screening?”.

Apalah mau dikata, kelihatannya memang yang kami rencanakan tidak berjalan lancar. Kabar tentang dana pun datang. Tidak ada sesi foto karena tidak ada dana untu memesan backdrop bertuliskan FFM. Tidak ada teater. Tidak ada papan tanda tangan. Kita punya karpet merah tetapi lucu kalau konsep ini saja yang terealisasi, red karpet pun kami coret.

Konsep acara mesti diubah menyesuaikan dana. Kami tetap mengundang Sukastik untuk menghibur. Rasanya waktu itu kreativitas kami diuji. Kami anak bau kencur, ini masalah yang berat waktu itu. Diskusi dan diskusi. Kami berencana memanggil Gundhi Aditya (anggota kondo alit2) untuk menjadi pembawa acara. Thanks berat, Gun. Sekalian promosi “Gundhi adalah pembawa acara terlucu dan terbaik yang pernah saya temui”. Dan menduetkannya dengan Mumu “Muklis Sandhi” adalah hal yang tepat.
Malam sebelum acara (H-1) kami menelepon Gundhi dan malam itu juga ia datang. Gedung C adalah saksi pertemuan kita berlima. Kami mengobrolkan acara besuk bakal seperti apa. Banyak banyolan yang kita rencanakan. Seperti parodi Aisyah dan Fahri. Gundhi menjadi Aisyah dan Mumu menjadi Fahri. Aku nggak akan pernah lupa bagaimana penonton tertawa. Konsep epic movie terwakili oleh kedua pembawa acara kami.
Lelucon yang nggak pernah aku lupakan dan kadang kami masih tertawa membahasnya. Ditengah perbincangan Mumu dan Gundhi diatas panggung Auditorium MMTC, tiba-tiba Gundhi menarik Mumu “mending kalau bicara jangan disini” Mumu bingung “Lho kenapa?!!” Gundhi menunjuk atas kea rah burung garuda “Ndak di teleki (ntar kena kotoran)”. Sebagian orang menganggap hal tersebut menistakan garuda lambang bangsa. Tetapi tak ada yang keberatan karena toh semua tertawa. Aku yakin malam itu semua sakit perut kerena ketawa.
Begitulah Parfimm I yang sederhana.

Terselenggarakannya Parfimm II adalah berita gembira bagi saya (dan mgkn teman-teman panitia Parfimm I) karena susahnya birokrasi kampus. Tetapi sangat disayangkan karena dalam kaca mata saya yang cuma duduk di bangku penonton (baca bukan panitia lagi) acara ini kurang hidup. Padahal dalam segi pendanaan, acara kali ini bisa dikatakan lebih kaya. Satu pelajaran bagi saya “uang bukan segalanya”
Parfimm II terasa hambar di hati saya. Padahal kali ini bukan hanya lingkup mahasiswa MMTC tetapi lingkup pulau jawa. 71 film yang masuk disaring menjadi 20 besar. Banyak komunitas yang datang pada acara awarding. Tetapi sayang, konsep acara sangat konvensional. Ingin mengusung tema budaya tradisional dengan tarian dan setting panggung yang sedemikian rupa. Saya tidak melihat usaha untuk membuat acara menjadi istimewa. Kurang matang dan belum siap. Bahkan Salman Aristo dibiarkan hanya duduk di bangku penonton. Pembawa acara gagal membuat hidup acara. Padahal konsep yang dulu kami inginkan semuanya ada. Papan tanda tangan, pengisi acara, dan kemegahan lainnya yang tidak bisa kita dapatkan di Parfimm I.

Saya tidak mengharapkan Parfimm II hanya mengandalkan pembawa acara tetapi saya mengharapkan inovasi baru dari suatu konsep acara. Maaf kalau saya sebagai penonton terlalu bawel atau apalah namanya.
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments

Adalah apa yang aku dapat selama kerja praktek di nine fx. Production house yang lebih banyak menerima proyek-proyek iklan selain film dan program acara. Awalnya nervous abis! Takut ga bisa apa-apa di lapangan kerja sesungguhnya. Selama 3,5 tahun jadi anak yang jaga kandang (baca kampus), nggak ngerti dunia luar. Sekaranglah saatnya untuk survive di luar. Toh, kalau sampai sini nggak bisa apa-apa sebenarnya wajar. Karena MMTC tidak memberikan cukup bekal tentang periklanan. Program TV live studio kami jagonya tapi iklan (I don’t think so!)
Mungkin ada yang langsung merespon “Makanya jangan ngandelin kampus aja! Belajar keluar dong.” Woukyeh , menurutku inilah saatnya belajar diluar. Atau “Kenapa milihnya PH iklan?! Bukannya di TV aja.” Ah, aku sedang merasa bosan dengan program TV apalagi live studio. PH iklan lebih menantang saat ini. Resikonya harus belajar lagi (mungkin MMTC nggak sadar betul kalau iklan termasuk produk broadcast). Entah mengapa iklan di anak tirikan. Tapi aku juga bukan katak dlm tempurung yang radonk blas masalah iklan. Dulu sempat kepikiran ikut ajang bergengsi orang iklan “pinasthika” tapi gagal karena kesibukan kuliah (bukan sembarang alasan). Dari sebelumnya udah baca-baca buku iklan. Dan waktu simulasi, nggak ada yang mau ngerjain iklan. Akhirnya 3 diva (sebutan pradit,tuti,nanda di kampus. Hahahaha )juga yang ngerjain. Paling nggak dah pernah buat iklan yang gagal (belum puas akan hasil akhir).
Kalau boleh Nine Fx aku sebut kampus kedua bagiku (kalau boleh!). Tapi memang seharusnya begitu. Apa tujuan dari ditetapkannya wajib kerja praktek oleh kampus-kampus di (mungkin) seluruh Indonesia. Adalah untuk mencari ilmu, menerapkan dan mengaplikasikan apa yang telah kita pelajari. (baca aja di proposal KPku di bab tujuan dan manfaat kerja praktek hehehe ada kok!). Waktu nulis di proposal, sumpah! Aku cuma ngarang. Tetapi yang terjadi lebih indah daripada apa yang aku karang. Wondering!
Disini sama seperti di kampus (bukan keruetan birokrasi lho ya). Disini sama-sama mengkonsep sesuatu. Bedanya subyeknya iklan bukan program, obyeknya nggak cuma penonton tapi juga klien. Fungsi dosen diambil alih oleh Creative Director. Beliau yang mengarahkan konsep kita atau meng-brief sebelumnya tentang apa yang dimau oleh klien.
Sadar bahwa masih banyak yang perlu aku pelajari. Tapi baru sadar bahwa yang harus segera aku pelajari adalah menggambar. Tak cukup asal sebut tipe shot, agar lebih komunikatif harus buat storyboard. Dan bukan DoP yang berkewajiban buat storyboard tetapi kreatifnya. Karena belum ada DoP saat present konsep kita ke klien (berlaku jg buat program TV). Bagaimana bisa klien bisa membayangkan bentuk visual dari konsep kita kalau tidak ada gambar (storyboard). Di Nine Fx, ada lima orang yang menguasai betul tentang gambar. Dua diantara editor dan yang lainnya boleh di bilang creative directornya. Jadi aku salah kalau dari dulu nganggap belajar gambar itu nggak penting untuk seorang kreatif. Minimal berbentuk sketsa.
Pada proses produksi, aku masih sebatas melihat (membantu juga tidak banyak). Bukan berarti tidak bisa belajar. Harusnya mengamati dari dekat memberi pelajaran yang nyata. Hal yang baru , bahwa DoP itu di here bersama timnya meliputi asst.kamera, gaffer, lighting. Ibaratnya kru teknis di bawah asuhan DoP.
Merasa goblok, cetek dan hopeless plus stress, aku cari siraman rohani berupa browsing blog-blog orang iklan yang ternyata oke (pengen beli buku tapi dana nakal telah habis. Dan nggak mungkin pakai duit makan. hahaha). Kalau disimpulkan kira-kira begini. Untuk menjadi seorang kreatif kamu harus membuat 10 sampai 15 konsep per hari, dalam setahun pasti ada 1 atau 2 konsep yang bagus. Argh! Tapi memang ada benarnya. Hahaha aku merasa beruntung bisa belajar iklan sekaligus praktek langsung plus bonus faktor klien yang harus dipenuhi keinginannya.
Buat temen-temen yang belum KP, aku harap jangan menyepelekan KP dengan hanya menganggap untuk melaksanakan kewajiban dari kampus. Banyak banget yang bisa diambil dari sini. Saatnya ngeliat dunia dengan kasat mata, tidak lagi di kelas dan belajar pakai skala.Entah apapun pilihanmu kelak. TV nasional atau lokal, Film nasional atau indie, atau bahkan iklan. Terserah. Paling nggak bisa tau seperti apa dan kenapa kamu pilih dan nggak pingin kamu pilih. Jangan asal KP cuma ngejalanin kewajiban. Kalau kamu pilih indie minimal tahu kenapa film nasional seperti apa sehingga nggak jadi pilihanmu. Atau ada apa dengan TV local kok lebih milih TV Nasional. Sempat menyayangkan temen-temen yang asal KP tapi balik lagi ke orangnya. Siapa gw geto loh! Hahaha. Plis buat KPmu berarti buat kamu sendiri bukan cuma sekedar nilai yang kamu bawa pulang untuk bungkus kacang.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
* tulisan ini aku buat waktu kelas 2 SMA

Haruskah ada materi yang memisahkan si kaya dan si miskin
Yang benar-benar nyata , membuat jeda
jurang pemisah dan tembok penghalang
Ketidak berdayaanku melihat semua itu,
menangisku dalam hati

Seorang perempuan setengah baya membuyarkan lamunanku
dengan suara lantang bercerita hal-hal yang membuatnya kesal
pada penjual nasi di pinggir jalan
seberang sekolahku
aku disana, terpaksa dengar semua cerita itu
Orang tua renta, dua meter di hadapanku
berjalan dengan tertatih
satu meter lima langkah dengan berhenti menarik nafas tiap satu langkah
Diwajahnya ada peluh mengalir
darimanakah dia berjalan?
Ia mendekati wanita setengah baya
diberinya dua kantong plastik hitam
Melihat isinya wanita setengah baya
marah, mengumpat, memaki dan mencaci
dibanting kantong yang berisi daging
Makiannya lebih nyaring dari ceritanya tadi
Si tua renta dituduh menggelapkan uang,
dia hanya diam saja.
Dia melihat catatannya,
terdiam walaupun cacian bertubi-tubi menghujaninya
dia bingung tak mengerti
di wajahnya hanya ada kepasrahan
nasibnya sungguh malang
Aku bisa tahu dia sudah pikun

Ingin aku tolong si Tua renta,
dengan apa?
Aku pandang wanita setengah baya dengan kemarahan
Andai aku berani , ku lempar sepatuku kedua-duanya
Membalas semua makian untuk si Tua renta
Kulihat si Tua renta berbalik,
membawa dua kantong plastiknya dan kertas catatan
Melangkah kembali ke pasar
atas seruan si setengah baya

jogja 21 Okt 2003

Salam Penuh Cinta,

Nanda
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Newer Posts
Older Posts

About me

Hai. Namaku Nanda. Anaknya suka cerita lewat tulisan dan suka belajar tentang kehidupan. Terima kasih sudah mampir, ya!

Follow My Instagram

  • Instagram

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • ▼  2019 (4)
    • ▼  September (1)
      • Review Drama Arthdal Chronicles
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
  • ►  2018 (16)
    • ►  December (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (7)
    • ►  February (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  November (2)
  • ►  2013 (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2012 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  February (3)
  • ►  2011 (18)
    • ►  November (5)
    • ►  October (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (3)
  • ►  2010 (13)
    • ►  December (1)
    • ►  March (11)
    • ►  January (1)
  • ►  2009 (3)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2008 (1)
    • ►  December (1)

Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose