• Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download
facebook twitter instagram linkedin

nanda pangesti



Jujur kembali lagi menulis di blog ini setelah menonton drama terbarunya Jang Ki Young. Bukan karena ketampanannya yang disebut-sebut tiap dia main drama ya. Tetapi karena tiga karakter wanita di dalam drama ini. Saking kerennya langsung nulis lagi di blog ini. Siapa tahu bisa membantu kalian yang cari referensi drama yang bagus.

Kalau kalian mengharapkan kisah asmaranya yang jadi cerita utama, sepertinya harus kecewa. Karena romance tidak terlalu mendapatkan banyak tempat seperti drama korea biasanya. "Search" lebih menitik beratkan pada cerita karir wanita-wanita ambisius. Ketika banyak wanita ambisius di drama lain menjadi karakter antagonis, disini dikasih spotlight. Membuat kita yang nonton berpikir "Ternyata banyak kok wanita ambisius (dalam berkarir) di luar sana". Atau lebih dari itu. "Ternyata nggak salah kalau jadi wanita gila kerja".

Media komersil seperti kumparan melebeli drama ini dengan kata progresif. Tepat sih kata itu. Karena memang membuka pandangan tentang wanita karir.

Meskipun keambisiusan tingkat dewa para pemeran karakternya, ketiga cewek ini memang profesional, cerdas dan tegas. Mereka tahu apa yang mereka inginkan dalam hidup. Yah namanya hidup pasti ada rintangannya ya.

Scene Lee Da Hee & Im Soo Young

Im Soo Young membawakan karakter Baek Ta Mi. Ia mendapatkan perlakuan tidak adil dari kantornya. Tapi dia tidak tinggal diam. Membuat rencana balas dendam yang fair. Karakter yang dibawakan Lee Da Hee lebih keren lagi. Dia menjadi mantan atlet yudo bernama Cha Hyun yang kini bekerja di perusahaan portal web. Ia mengubah mimpinya memenangkan medali menjadi wanita kaya yang pintar berkelahi. Kadang dia pakai otak, tapi banyak juga yang pakai otot.

Satu lagi yang meskipun antagonis tapi layak diacungi jempol. Jeon Hye Jin. Dia membawakan karakter karakter Song Ga Yeong. Dulu dia dikagumi karena idealis. Namun kemudian dikontrol oleh ibu mertuanya untuk melakukan pekerjaan kotor. Dia seolah simbol wanita yang terkekang karena pernikahan.

Soal sentuhan romance-nya, jangan khawatir. Ketiga karakter tadi memiliki kisahnya masing-masing dengan formula yang pas.

Udah nonton belum? Setuju ga kalau Im Soo Young dan Lee Da Hee emang keren di drama ini?

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Banyak lagu yang mengingatkan kita pada seseorang. Atau pada suatu kejadian. Bisa juga membawa kembali rasa. Tapi sejujurnya lagu tidak pernah benar-benar menggambarkan perasaan. Mereka hanya mewakili. Setidaknya menurut saya demikian.

Tapi lagu ini rupanya lain. Dia mampu menguliti perasaan dan bahkan menelaah satu per satu rasa yang tidak pernah benar-benar saya urai sebelumnya. Semakin didengarkan, semakin suka sekaligus semakin sakit. Judulnya "Rumpang". Single pertama dari seorang penyanyi muda. Nadin Amizah. Mungkin kalian sudah tahu. Tapi jika belum dan penasaran, klik link Youtube-nya di bawah ini.

Rumpang by Nadin Amizah

Pertama kali mendengar liriknya, wajah almarhum Bapak langsung terbayang. Dan lagu itu adalah rasa saya. Bukan kata yang keluar dari pita suara Nadin yang indah. Rumpang memang tentang rasa kehilangan. Dalam video klipnya menceritakan seorang anak perempuan kehilangan ibunya. Ia terlalu kecil untuk paham apa itu kepergian yang tiba-tiba. Dia dipaksa untuk menghadapi rasa yang mungkin sangat sulit dipahami. Sebenarnya kecil atau dewasa, akan sama saja. Sama beratnya kalau itu soal merelakan seseorang karena kematian. Termasuk saya.

Penggalan awal lirik Rumpang berkata seperti ini,

"Pagi tadi aku masih menangis
Ada rasa yang tak kunjung mati
Ada seseorang di atasku
Menahan semua rasa malu.

Sempat ku berpikir masih bermimpi
24/7 tanpa henti
Matahari dan bulan saksinya
Ada rasa yang tak mau hilang"

Bapak saya meninggal secara tiba-tiba di tahun 2017 lalu. Saat ini, sudah setahun lebih kepergian beliau. Namun masih seperti kata-kata tadi lah rasanya. Ingin peristiwa ini adalah "mimpi".  Ingin bisa bangun dan mendapati semua baik-baik saja. Bahwa almarhum masih hidup dan bisa ditemui kapan saja. Bisa bicara dan bisa dipeluk. Bisa ditelepon dan diajak bercanda. Orang akan bilang tak baik terus-terusan larut dalam kesedihan. Padahal rasa ini tak bisa kamu kendalikan. "Ada rasa yang tak mau hilang".

Lirik selanjutnya begini,

"Aku takut sepi tapi yang lain tak berarti"

Lalu,

"Katanya mimpiku 'kan terwujud
Mereka lupa tentang mimpi buruk
Tentang kata maaf, sayang aku harus pergi"

Sebenarnya banyak orang yang akan menemani. Mencoba menghibur, berusaha memahami dan mengeti. Entah karena sayang, entah karena mereka juga pernah mengalami sendiri. Kehilangan seseorang yang benar-benar kehilangan. Mereka seakan bisa membantu melewati semua dan baik-baik saja. Padahal, mereka hanya angin lalu. Mereke mungkin benar, tapi hatimu kosong sehingga terdengar seperti omong kosong. Sekeras apapun semua itu "tak berarti".

Terkadang mereka membuat kita harus berpura-pura baik-baik saja. Agar mereka tak khawatir dan menjadi beban untuk mereka. Karena mereka sudah berusaha keras. Mungkin akan ada satu titik dimana kita akan lewati dengan sendirinya. Tanpa

Apapun kata orang untuk menghiburmu saat kehilangan, terasa bagai angin lalu. Kamu tahu kata-kata itu benar tapi tetap seperti omong kosong. Karena yang pergi tak kembali. Yang kamu inginkan tidak akan terjadi. Kita sendiri tak punya petunjuk "kapan kesedihan ini akan berakhir? Lalu apa benar hanya waktu yang akan menyembuhkan? Bagaimana kalau tidak.

Dari semua baris lirik Rumpang, inilah paling menusuk hingga ke ulu hati.

"Banyak yang tak ku ahli
Begitu pula menyambutmu pergi
Banyak yang tak ku ahli
Begitu pula menyambutmu pergi
Banyak yang tak ku ahli
Begitu pula menyambutmu tak kembali"

Tak akan ada orang yang ahli dalam hal ini. Meskipun sangat benar-benar menginginkan. Rasa tak bisa melepas kepergian seseorang adalah seperti berjalan dengan beban yang berat. Tidak bahagia dan menyiksa. Maka menjadi "ahli menyambut seseorang pergi" adalah harapan untuk bisa melanjutkan hidup bagi orang seperti saya.

Bukan bermaksud menggurui kalian dengan menguraikan rasa di lagu milik Nadin. Mungkin kalian punya rasa yang berbeda. Atau hanya sedikit mirip. Karena memang tidak harus sama. Sakit ini boleh berbeda-beda.

Ketika memutuskan untuk menulisnya di blog, saya tidak mengharapkan apa-apa. Hanya saja, menumpahkan apa yang kita rasa lewat tulisan itu menyenangkan. Mendengar lagu "Rumpang" juga menyenangkan. Membuat sedih dan mungkin memaksa air mata keluar. Entah mengapa itu juga menyenangkan. Mungkin disinilah peran seni (musik) itu sendiri. Saat ini, tidak ada yang bisa mengetahui rasa kehilangan saya atas kematian Bapak, selain Rumpang.

P.S Saya sempat mencari arti Rumpang. Karena bingung kenapa diberi judul dengan kata itu. Walaupun terdengar sangat cocok. Dari pencarian digital menyimpulkan kalau Rumpang sebenarnya memiliki arti ompong (untuk gigi). Tidak utuh atau bersela-sela.



Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Chae Do Jin (diperankan Nam Da Reum) menggendong adiknya melewati jalan setapak yang dipenuhi pohon sakura dengan bunga yang sedang mekar. Sebuah mobil melintas. Di dalamnya Han Jae Yi (diperankan Ryoo Han Bi) dan keluarganya serta seekor anjing. Saat itulah cerita tentang cinta pertama mereka berawal. 

Jae Yi dan Chae Do Jin.
Kisah mereka bukan lagi menjadi kisah yang manis ala anak SMA. Karena Ayah Do Jin, Yoon Hae Jae yang ternyata seorang psikopat. Ia membunuh banyak orang termasuk orang tua Jae Yi. Sejak saat itu, keduanya terpisah. Saling mengganti nama untuk melupakan masa lalu sekaligus lari dari kejaran media yang terus mengulik cerita mereka. 

Jae Yi dewasa.
Kehidupan mereka menjadi berat setelah peristiwa itu. Saat sudah dewasa, Do Jin dewasa (diperankan Jang Ki Young) menjadi seorang detektif dan Jae Yi dewasa (diperankan Jin Ki Jo) meniti karir menjadi artis seperti ibunya. Dari balik penjara, Yoon Hae Jae tetap membuat kehidupan keduanya sengsara. Ia mengeluarkan buku biografi tentang kisah hidupnya dan membuat Do Jin dan Jae Yi kembali dikejar-kejar media untuk wawancara. 

Terlepas dari intervensi media, Do Jin dan Jae Yi saja sudah kesulitan menghadapi perasaan mereka. Bagaimana mencintai pria yang Ayahnya telah menghancurkan keluargamu dengan tragis? Bagaimana pula, Do Jin harus memandang Jae Yi dengan kepala tegak setelah perbuatan Ayahnya? 

Chae Do Jin dan Jae Yi.
Come and Hug Me memang tampil sangat menjanjikan di episode-episode awal. Ceritanya juga kuat. Sutradara dengan baik membangun perasaan Do Jin dan Jae Yi. Sayang drama ini memiliki tempo yang sangat lambat. Beberapa adegan dibuat terlalu panjang. Beberapa juga tidak perlu untuk ditampilkan. 

Saya tidak keberatan dengan drama-drama dengan tempo yang lambat. Beberapa drama dengan tempo seperti ini Saya lahap habis tanpa mengeluh seperti Uncontrollaby Fond dan Mother. Biasanya drama dengan tempo ini justru memiliki cerita yang serius, riset yang mendalam, kisah mengharukan dan mengaduk-aduk perasaan. 

Mungkin "Come and Hug Me" bukan tipe drama yang Saya sukai. Merasa membutuhkan kesabaran ekstra untuk menghabiskan setiap episodenya. Padahal akting Jang Ki Young dan Nam Da Reum serta Jin Ki Jo dan Ryoo Ha Bin sangat keren. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Jangan bandingkan drama “Investigation Couple” dengan drama-drama investigasi lain yang sempat booming seperti “Voice”, “Signal” atau “Tunnel”. Drama ini memiliki keseruan yang berbeda.

“Voice” membutuhkan karakter seperti Kang Kwon Jo (diperankan Lee Ha Na) yang memiliki kemampuan mendengar suara-suara yang tak didengar telinga biasa. Sedangkan “Signal” memberikan bumbu fantasi berupa walkie-talkie yang bisa menghubungkan detektif Park Hae Young (diperankan Lee Je Hoon) di masa depan dengan detektif Lee Jae Han (diperankan Cho Jin Woong) di masa lampau. Begitu pula dengan “Tunnel” yang menggunakan bumbu fantasi berupa terowongan yang mengantarkan detektif Park Kwang Ho.


Maka dibandingkan dengan drama-drama tsb, “Investagation Couple” terasa polos. Tapi justru ini menariknya. Drama ini menceritakan tentang seorang jaksa baru (roockie) bernama Eun Sol (Jung Yoo Mi) dan seorang dokter forensik Baek Beom (Jung Jae Young). Eun Sol berasal dari keluarga kaya yang tak bangga dengan pilihan hidup Eun Sol. Ia bertekad menjadi jaksa yang baik menangkap penjahat demi korban. Sementara Baek Beom telah 10 tahun menjadi dokter forensik setelah kecelakaan yang dialaminya.


Eun Sol adalah manusia biasa, tak memiliki kemampuan spesial apapun. Tapi ia selalu berusaha keras mengungkap teka-teki kasus yang ditanganinya. Sementara Baek Beom yang memiliki perangai buruk menjadi sosok yang sulit dipahami orang-orang di sekitarnya. Jangankan para jaksa, rekan kerjanya saja membencinya. Namun Eun Sol langsung mempercayai Baek Beom walaupun ia sering dibuat kesal. Eun Sol fokus menemukan penjahat sedangkan Baek Beom tak mau berbicara selain fakta yang ditemukan dari hasil autopsi.

Tiap episode dalam drama ini terasa seru. Kita dibuat menebak-nebak siapa penjahatnya. Tapi tebakan tsb sering kali salah. Eun Sol juga berkali-kali hampir terjebak. Baek Beom terkadang membantunya, terkadang juga memberikan petunjuk secara tersirat.


Jangan bayangkan duo jaksa dan dokter forensik ini romantis ala drama korea romantis pada umumnya. Judul lain drama ini “Partner for Justice” yang rasanya memang lebih pas untuk mewakili cerita. Partner bukan Couple. Rekan bukan Pasangan.

Sebenarnya ada yang sedikit mengganggu dalam drama ini. Yakni ketika Eun Sol berkali-kali meminta Baek Beom bersimpati dengan korban. Padahal jelas-jelas Baek Beom adalah orang yang logis dan hanya mau berbicara dengan fakta. Terus Baek Beom juga tipikal orang yang kurang ramah. Padahal kalau mau komunikasi, ia dan Eun Sol adalah partner yang cocok.







Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

Hai. Namaku Nanda. Anaknya suka cerita lewat tulisan dan suka belajar tentang kehidupan. Terima kasih sudah mampir, ya!

Follow My Instagram

  • Instagram

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • ▼  2019 (4)
    • ▼  September (1)
      • Review Drama Arthdal Chronicles
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
  • ►  2018 (16)
    • ►  December (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (7)
    • ►  February (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  November (2)
  • ►  2013 (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2012 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  February (3)
  • ►  2011 (18)
    • ►  November (5)
    • ►  October (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (3)
  • ►  2010 (13)
    • ►  December (1)
    • ►  March (11)
    • ►  January (1)
  • ►  2009 (3)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2008 (1)
    • ►  December (1)

Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose