• Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download
facebook twitter instagram linkedin

nanda pangesti

Banyak pemeran yang sliweran di layar kaca, tapi satu pun nggak berbekas. Hilang lalu seperti debu. Karena mungkin saja mereka memang bukan aktor. Klo menurut pendapat saya yang palin pribadi dan nggak boleh diganggu gugat, aktor itu haruslah pernah main film. Eit.. ada tapinya! Tidak semua yang pernah main di film itu berhasil menjadi aktor. Namun diantara seribu bintang ada beberapa yang memang bersinar. Ini aktor tampan dan mereka aktor di mata saya..


Donny Alamsyah
Dia terlihat paling macho sebenarnya di video klip Andra and The Backbone versi Hitamku. Kalau akting terbaiknya di film Fiksi. Entah kenapa kalau di FTV performanya menurun. Tapi tidak ada akting yang maksimal di film murah meriah itu.






Ario Bayu
Ini namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi karena tidak percaya roman picisan seperti itu jadi butuh waktu untuk menelaah perasaan saya. Pertemuan pertama di film The Tarix Jabrix, meskipun bukan pemeran utama tapi machonya langsung memikat. Aksi terbarunya di film Catatan Harian Si Boy dan he is awesome. Dan dia nggak main di FTV manapun. Ini sih dua sisi mata uang, satu sisi nggak bisa sering-sering lihat wajah gantengnya tapi disisi lain aktingnya terjaga..

XOXO Nanda
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Sial, film ini menghina logika saya. Babak pertama film ini seperti mengatakan kalau mau nikah tinggal nikah. Seperti Ira dan Abby yang memutuskan menikah di hari pertama mereka bertemu. Tapi bukan itu yang ingin disampaikan film ini. Babak kedua, Ira dan Abby memiliki masalah. Semua masalah disebabkan karena Ira calon analis yang menggunakan teorinya untuk membina rumah tangganya. Sedangkan Abby biasa hidup tanpa teori, semua berjalan natural. Mereka pergi ke seorang analis. Mengagetkan karena para analisnya menyimpulkan “tidak ada teori untuk membina rumah tangga”. Pun ketika Ira takut akan perselingkulan, ayahnya yang juga seorang analis dan istrinya berselingkuh berkata “Tidak ada cara mencegahnya. Kita hanya menunggunya (istrinya) menyelesaikan lalu pulang.”
Kenapa kita menikah kalau tidak ada pernikahan yang bahagia? Demikian kesimpulan Ira setelah menikah dua kali dengan Abby. Namun film ini ingin mengatakan, pernikahan bukan hanya tentang kebahagian, tapi juga penderitaan. Kalau ingin menikah harus berani menanggung dua resiko tersebut. Yang terpenting adalah berusaha tetap bersama.
Menurut saya film yang bagus adalah film yang mengusik pemikiran kita. Dan film ini sangat mengganggu saya…
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Belum selesai shooting drama televisi "malaikat". Rasanya kok saya salah berdoa. Saya kira hujan adalah hambatan utama ternyata saya salah. Hari pertama diribetkan dengan kamera z1 yang chargernya rusak, seringnya lowbat membuat kami harus sering break. Baru dapat diselesaikan dengan mengambil kamera PD170 untuk nge-charge. Fyuh! Garing dan mas Adi harus mengambilnya di jogja padahal lokasi di wates. Oke masalah ini saja sudah membuat schedule kacau. Yang seharusnya shooting pukul 15.00 sudah selesai dan pindah ke lokasi shooting lain molor hingga pukul 19.00. Wait, lokasi pertama (sekolah) belum selesai tetapi kami memutuskan untuk take di lokasi kedua (rumah sakit). Padahal belum ada keputusan apakah sekolah boleh kami gunakan sampai malam atau tidak. Saya menelepon pihak sekolah tidak diangkat ditambah lagi kami sudah tidak ada koordinasi dari pihak intern sekolah. Penjaga sekolah tidak tahu menahu tentang hari itu. Jadi kami shooting tidak ada yang mengawasi. Enaknya dari lokasi seperti ini adalah kami bebas melakukan apa saja. Tidak enaknya adalah ketika kami harus meminta ijin balik lagi untuk melakukan shooting besuknya, kami bingung harus bicara dengan siapa.

Saya yang bertugas meminta ijin lokasi. Setelah semua kru pindah ke rumah sakit, rencananya saya berjaga disitu dan bagaimana caranya mengusahakan agar bisa melunasi utang scene. Tetapi kok horor ya…perasaan saya nggak enak. Saya menghampiri penjaga sekolah. Saya bilang kalau saya menghubungi pihak sekolah dan sudah bilang kalau besuk atau nanti tengah malam kami akan melakukan pengambilan gambar lagi. Dari awal memang bapak penjaga sekolah tidak welcome tetapi setelah saya memberi amplop dan sebungkus rokok, beliau jadi proaktif. Baiknya bukan mainan (money talk). Saya jadi nggak perlu berjaga disitu karena nanti kalau kami datang dia akan membukakan pintu gerbang selebar-lebarnya.

Setelah dari tempat itu saya ke tempat pak Agus Burhan diantar Ayah (yang tahu rumahnya) untuk ijin shooting lagi di sekolah. Sampai rumahnya, beliau tidak ada. Anaknya yang membukakan pintu, bapak di balai desa katanya. Saya hampir putus asa hingga melewati depan balai desa. Tidak ada salahnya mencoba piker saya. Saya berhenti dan melihat Pak Agus Burhan sedang memimpin rapat. Saya pun menunggu, beberapa menit ada penjaga yang menanyakan keperluan saya. Lalu ia memanggilkan Pak Agus Burhan. Pak AAgus Burhan adalah figure guru berwawasan luas menurut saya, ia tidak suka mempersulit orang lain. Tidak seperti kebanyakan orang seumurannya yang suka menjebak saya ke dalam birokrasi ribet.

Saya kemudian ke rumah sakit, menemui Pak Produser. Dilema, melanjutkan malam ini atau besuk untuk lokasi sekolah. Akhirnya kami memilih untuk melanjutkan shooting malam ini saja dengan pertimbangan kondisi sekolah besuk sangatlah tidak pasti. Walaupun Dimas (Lightingman) sempat protes karena lampu tidak akan mampu maksimal (bengi ora, awan ora). Reza sang astrada berjanji pukul 22.00 sudah bungkus untuk lokasi di rumah sakit lalu bisa pindah ke sekolah. Tetapi sampai pada jam yang telah dijanjikan masih ada tiga shot. Saya dan SiPut (Unit Manager) akhirnya ke sekolah duluan. Dan benar, pintu gerbang dibukakan. Kami menunggu di laboratorium sekolah, hanya berdua. Horor!! Saya sudah melarang SiPut tidur tetapi karena lelah ia tidur juga. Saya tidak tega membangunkannya, tetapi setelah suara-suara aneh dengan teraksa saya bangunkan dia. Bayangkan dua cewek di lab kimia pukul 23.00 WIB. Kru baru datang tengah malam. Dengan tenaga yang tersisa namun tetap semangat mereka menyelesaikan shooting. Dan kami baru bungkus pukul 02.00 dini hari.

Hari kedua ada saja trouble yang kami dapatkan. Baru beberapa shot, genset mati. Sebenarnya genset menurut kami sumber yang paling aman. Tetapi yang namanya alat buatan manusia tidak dapat diprediksi. Putro Nugroho sampai datang dari jogja untuk memperbaiki genset. Hasilnya nihil, karboratornya yang kena katanya. Fiyuh! Paling malas memang kalau memikirkan sumber dalam shooting. Tidak semua bisa. Putro ahlinya pun sudah menyerah. Kami sewa lagi genset "odong-odong" yang tentu saja akan membuat kerja Indra (audioman) lebih berat. Shooting dimulai lagi pukul 21.00 dan selesai pukul 02.00 dini hari (lagi). Perjanjian awal shooting di rumah mbah Yasir cuma sampai pukul 19.00 lalu pindah ke rumah mbak Yanti yang ada disebelahnya. Atas kebaikan Mbah Yasir kami diperbolehkan shooting sampai kami selesai. Baru pukul 22.00 kami pindah. Matur Nuwun nggih mbah!

Hari ketiga Alhamdulillah lancar. Walaupun ada scene yang harus diomited. Tentu saja jangan sampai mempengarui cerita. Lagi-lagi pukul 02.00 kami selesai. Scene 28 kami pending dan kami lakukan di jogja saja. Fyuh!!! Teman-teman "Heart and Soul" dan "Serikat Video" tengkyu yah. Atas perjuangannya yang tidak pernah lelah. Dan suasana shooting yang menyenangkan. Segala macam trouble jadi tidak terasa. Hahaha…

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Ini debut pertama saya sebagai penulis naskah. Ide dan inspirasi berasal dari lingkungan ditambah campur tangan beberapa orang dengan memberikan masukan. Riva Rais a.k.a Sutradara dan Yopi Kurniawan, SPT a.k.a Produser. Film ini saya dedikasikan kepada para kakek dan nenek di seluruh Indonesia. Dari mereka lah inspirasi datang kepada saya. Merekalah orang yang tulus menyayangi kita tetapi kadang mereka seperti kurang kasih sayang. Dalam menghadapi masa tuanya, terlalu banyak dilanda rasa sepi. Hingga kadang meminta perhatian kita. Bukan bermaksud mengganggu walaupun kadang memang demikian yang kita rasakan. Apa salahnya kita ada untuk mereka karena mereka pernah selalu ada untuk kita?

Film ini saya buat sebagai karya tugas akhir. Resminya disebut Drama Televisi bukan Film karena ilmu yang saya pelajari adalah broadcasting. Tentang televise dan radio sedangkan film berdiri sendiri dan terlepas dari yang namanya Televisi. Perbedaannya sangat absurd, saya masih bingung menjelaskannya. Dan saya beserta teman-teman tidak pernah lagi membahas perbedaannya. Hanya bisa dirasakan. Yang jelas subtansi dari film itu lebih berat daripada drama televisi. Yang membuat film itu tidak jauh dari drama televisi adalah industri sendiri yang asal-asalan membuat film.

Sekarang masih ada pada tahap editing. Itu pun masih offline. Judulnya malaikat. Saya harap suatu saat bisa dinikmati dan diapresiasi bersama-sama. Terima kasih.


 

Salam penuh cinta,

Nanda Pangesti

Share
Tweet
Pin
Share
2 comments


dua film yang dibuat tidak dengan marah-marah tetapi membuat saya naik darah. MA_RAH. Dan muak.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Older Posts

About me

Hai. Namaku Nanda. Anaknya suka cerita lewat tulisan dan suka belajar tentang kehidupan. Terima kasih sudah mampir, ya!

Follow My Instagram

  • Instagram

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • ▼  2019 (4)
    • ▼  September (1)
      • Review Drama Arthdal Chronicles
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
  • ►  2018 (16)
    • ►  December (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (7)
    • ►  February (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  November (2)
  • ►  2013 (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2012 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  February (3)
  • ►  2011 (18)
    • ►  November (5)
    • ►  October (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (3)
  • ►  2010 (13)
    • ►  December (1)
    • ►  March (11)
    • ►  January (1)
  • ►  2009 (3)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2008 (1)
    • ►  December (1)

Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose