• Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download
facebook twitter instagram linkedin

nanda pangesti


The real world never change. Still cruel.

Saya membaca beberapa review tentang film ini setelah menonton. Dan sedikit kaget karena apa yang mereka tangkap jauh berbeda dengan apa yang saya pahami. Namun hal itu justru menunjukan kualitas seorang Guillermo Del Toro sebagai seorang sutradara. Dan tulisan ini tentu saja hasil penangkapan saya.

Elisa, wanita bisu tokoh sentral dalam film ini, seakan representatif dari manusia yang dianggap lemah. Bisa jadi ia biasa saja menjalani hidupnya. Tak memerlukan belas kasian orang lain. Toh dia menikmati hidupnya tanpa banyak mengeluh. Ia bersahabat dengan pelukis tua yang tinggal di sebelah kamarnya. Dan juga wanita sesama janitor yang mampu memahami dan melindunginya. Meski hanya seorang janitor, Elisa mendapatkan tekanan dari pemegang jabatan tertinggi di tempat kerjanya. Ia merasa perlu meremehkan Elisa yang bisu karena ia sendiri mendapatkan tekanan dari orang di atasnya. 


Elisa kemudian jatuh cinta tanpa sengaja. Dengan makhluk aneh yang dibawa dari kawasan Sungai Amazon. Ia terlihat seperti ikan yang menyerupai manusia. Amerika berencana melakukan penelitian tentang makhluk ini. Sama seperti ikan lain dan Elisa, mereka tidak bisa bicara. Tetapi komunikasi keduanya justru terjalin dengan baik. 

Kehebatan Amerika membuat mereka merasa berhak membunuh makhluk ini untuk dijadikan bahan penelitian. Elisa tak tinggal diam. Elisa yang lemah, Elisa yang hanya seorang janitor berusaha menyelamatkannya. Menembus penjagaan ketat, hanya dengan bantuan pelukis tua yang gagal melawan modernisasi foto. Tanpa sengaja, ia juga mendapatkan bantuan dari mata-mata Soviet yang ironisnya digambarkan lebih memiliki hati daripada Pejabat Amerika.


Apa yang ingin disampaikan film yang berhasil membawa pulang Piala Oscar sebagai film terbaik ini, membuat saya terhenyak. Menyadari bahwa dunia tidak pernah benar-benar berubah. Film ini mengambil setting sekitar tahun 1960. Meski sekarang sudah beralih ke dunia yang jauh lebih modern, namun manusianya tetap sama. Kejam dan egois. 








Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Kehadiran Lady Bird sebagai film bergenre remaja seolah membawa angin segar. Telah lama genre ini didominasi cerita cinta-cintaan saja. Kalau pun mengangkat persoalan keluarga hampir semuanya diceritakan dengan formula yang sama. Itu pendapat pribadi sih. Karena terus terang, beberapa tahun belakangan malas dengan film bergenre remaja karena bosan.


Lady Bird sendiri merupakan nama yang dipilih oleh Christine, si tokoh utama dalam film ini untuk dirinya sendiri. Kebayangkan masa-masa dimana kita benci dengan nama pemberian orang tua. Ini merupakan satu di antara sekian banyak ketidakpuasan atas apa yang mereka berikan. Dari pemilihan nama tersebut menggambarkan pribadi Christine yang unik.


Ia memiliki hubungan yang rumit dengan Ibunya. Hal-hal kecil kerap membuat keduanya bertengkar. Christine berada di masa dimana ia tak ingin mendengarkan perintah apalagi omelan. Sementara Ibunya terus memancing perdebatan. Meski sebenarnya masih dalam porsi yang sangat wajar. Hubungan ini rasanya cukup membuat Christine ingin melanjutkan kuliah di New York agar jauh dari orang tuanya. Tentu saja ibunya melarang karena kesulitan finansial yang sedang dihadapi keluarga. Christine tetap pada pendiriannya dan mendaftar dengan bantuan Ayahnya.

Di sekolah Christine juga tak lepas dari pencarian jati diri ala remaja. Ingin diakui sekaligus dicintai. Dari mencari pacar hingga mencoba bergaul dengan murid paling tajir dan popular. Tetapi ia tak mencoba menjadi popular. Semata-mata yang dilakukannya untuk membuat masa remajanya lebih berwarna. Termasuk di dalamnya, keputusannya untuk memberikan keperawanannya di moment yang spesial.


Menonton perlakukan film ini, melihat bagaimana Christine memperlakukan Ibunya. Kita (wanita) akan dibuat serasa bercermin. Penyesalan Christine sama dengan yang kita rasakan setelah bertengkar dengan Ibu. Begitu pula, rasa sakit yang ia alami di akhir cerita. Justru karena keluarga, semakin sulit bagi kita untuk mengucap kata "maaf".

Sayangnya di ajang Academy Award 2018, Lady Bird gagal membawa pulang piala Oscar. Padahal banyak orang yang sangat ingin film ini menang. Meski tak memenangkan Academy Award, film ini layak mendapatkan apresiasi.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Tiba-tiba terlintas tanya dalam benak saya, "Kapan terakhir kali mengobrol serius dengan keluarga?" Pertanyaan yang keluar dengan sendirinya itu sempat membuat saya termenung beberapa saat. Saya seakan membuka-buka album berisikan kenangan-kenangan ketika bersama kedua orang tua.

Potongan kenangan itu akhirnya muncul. Hmm sepertinya ini obrolan serius terakhir dengan orang tua saya. Saat itu saya, bapak dan ibu berada di dalam mobil, seingat saya menuju rumah. Kita tengah lelah-lelahnya mengurus persiapan pernikahan saya yang tinggal beberapa bulan. Mereka rupanya sedikit khawatir karena setelah menikah nanti saya harus keluar dari pekerjaan. Mungkin mereka lebih kepikiran daripada saya yang terancam jadi pengangguran ini. Akhirnya gagasan yang sudah lama tenggelam menyeruak lagi.

"Kamu nggak berminat jadi PNS?" kata ibu.

Pertanyaan yang sama pernah diulang-ulang puluhan kali ketika saya memilih universitas. Kemudian diulang lagi ketika saya lulus kuliah dan mencari pekerjaan. Jika saya iya-kan maka saya akan dititipkan di kerabat yang PNS dan sudah memiliki jawabatan lumayan tinggi. Saya akan menjadi pekerja honorer lalu menunggu pemerintah mengangkat saya jadi PNS. Namun jawaban saya tetap sama. Tidak.

Kali ini saya merasa perlu memberi mereka penjelasan yang sedikit lebih panjang dari sekedar kata "Tidak" itu.

"Aku takut! Takut mengambil rejeki orang lain."

Saya tahu banyak orang yang mendambakan jadi Pegawai Negeri Sipil. Ada yang karena pengarahan dari orang tua atau memang murni keinginan sendiri. Namun toh mereka berusaha sampai mengambil jurusan tertentu agar diterima jadi PNS. Lalu bagaimana kalau saya ujug-ujug merebut impian mereka. Duduk di kursi yang seharusnya menjadi tempat mereka. Walaupun itu dilakukan tanpa sengaja.

Obrolan tidak berhenti disitu. Karena ibu saya tentu tidak dengan mudahnya menyerah.

"Kok merebut rejeki orang? Kan kamu emang kerja. Bukan makan gaji buta."

Memang bekerja, tapi tidak sesuai dengan passion saya. Diluar sana masih banyak orang yang memang sangat menginginkan pekerjaan itu. Sementara nantinya saya akan dengan sangat tidak bahagia mengerjakan apa yang tidak menarik menurut saya.

Pendapat tadi tentu saja akan dengan mudah dipatahkan. Untuk antisipasi kekalahan yang di depan mata, saya pun menambahkan keterangan.

"Apa ibu bisa menjamin 100 persen jika pekerjaan tersebut halal. Bagaimana dengan godaan korupsi? Ibu mau menanggung dosanya?"

Jaman sekarang sulit menjadi orang jujur. Dan menurut saya ketika menjadi PNS akan lebih sulit untuk menghindar dari kecurangan. Bukan berarti saya menuding semua PNS itu korupsi. Pasti ada yang jujur. Tapi apakah nanti saya mampu untuk menjadi PNS yang jujur. Saya meragukan itu. Meragukan diri saya sendiri. Seperti menemukan uang di tempat yang sepi. Kamu bisa kantongi saja uang itu karena tak akan ada orang yang tahu. Tetapi itu tetap bukan uangmu. Ada orang yang berhak atas uang itu. Lalu bagaimana jika uang itu adalah uang rakyat? Hitung saja dosa yang harus ditanggung. Sejumlah rakyat Indonesia?

Sampai sini ibu diam. Bapak yang tadi sempat menambahkan argumen bahwa jadi PNS itu enak, juga tak lagi ingin mengeluarkan suara.

Membahas hal ini saya jadi teringat obrolan saya dengan seorang teman. Ia bercerita tentang salah satu temannya yang menjadi PNS, sementara ia bekerja untuk Perusahaan Multinasional. Sebenarnya ada kesamaan antara teman saya dengan temannya yang PNS ini. Mereka sama-sama bertanggungjawab proyek di tempat kerja. Bedanya adalah teman saya akan survey harga dan nego habis-habisan sampai mendapatkan harga terbaik dari vendor. Sedangkan temannya, akan memberikan harga normal dan akan mengantongi diskon yang diberikan vendor. Namanya dikasih masa nolak.

Mendengar cerita teman saya ini saya bisa bilang, "Dipikir lagi. Itu uang halal atau enggak? Hak kita atau bukan?". Namun belum tentu saya masih memiliki pemikiran yang sama jika berada di posisi dia.

Ini sih sekedar opini pribadi. Kalau menurut kalian uang tersebut bisa dikategorikan korupsi bukan? Terus obrolan serius apa yang pernah kalian lakukan bersama keluarga?
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Inilah beberapa drama terbaik sepanjang tahun 2016-2017. Tidak semua drama di tahun tersebut aku tonton tentunya. Tapi mungkin bisa menjadi rekomendasi jika kamu bosan dengan drama yang lagi tayang. Atau kamu ternyata melewatkan drama ini. Menurutku tahun 2016 dan awal tahun 2017, banyak drama dengan kualitas luar biasa. Melampaui film-filmnya. Mungkin sekarang film korea untuk genre drama terutama, sulit menyaingi drama televisinya. 

1. Cheese In the Traps 

Dimainkan oleh Park Hye Jin dan Kim Go Eun. 
Tayang : TVN (mulai tayang bulan Januari 2016)

Gara-gara drama ini, jadi benar-benar jatuh cinta dengan Kim Go Eun (pemeran Han Seol). Terutama akting, pilihan karakter dan cerita untuk drama yang akan dimainkan. Apalagi setelah googling, ternyata dia sudah membintangi banyak film dan mendapatkan penghargaan. Setelah drama ini berakhir, tidak cukup cuma ngulang nonton. Tapi juga cari film-film yang dibintangi Go Eun. Begitu pula dengan Park Hye Jin. Baru benar-benar memperhatikan aktor satu ini karena karakter Yoo Jung (sunbae) di drama ini. 

Drama tentang psikologis atau cuma nyerempet dikit selalu jadi favorit. Entah kenapa. Tapi menonton drama yang diangkat dari webtoon ini, yakin banget jika penulis melalui riset yang panjang. Jadi diceritakan Yoo Jung memiliki gangguan psikologi yakni sulit mengekspresikan perasaannya. Akibatnya ia tidak bisa marah dan selalu bersikap manis di depan semua orang. Untuk meluapkan kekesalannya dia selalu balas dendam diam-diam. 

Masalah datang ketika dia jatuh cinta dengan Han Seol. Ia harus menutupi dirinya yang sebenarnya dari pacarnya. Sepanjang drama, dibuat cemas karena takut sifat asli Yoo Jung akan diketahui Han Seol. Susah lho membuat kita akan berpihak pada karakter yang jahat dan licik seperti Yoo Jung. 

Intinya drama ini rekomended bgt menurutku. Alurnya cepat dan tidak membuat bosan. Oya, sountrack Cheese in the traps wajib di download. Apalagi Kim Go Eun sumbang suara merdunya di salah satu lagu (teteup!).


2. Signal 

Dimainkan oleh Lee Je Hoon, Kim Hye Soo, Cho Jin Woong
Tayang : TVN (mulai tayang bulan Januari 2016)

Tema detektif sayang banget untuk dilewatkan. Kali ini tidak sepenuhnya tentang kriminal. Tapi dibumbui fantasi. Dimana dua detektif melakukan komunikasi dengan walkie-takie antara masa depan dan masa lalu. Tapi jangan salah. Drama ini sangat menarik karena kasus-kasus yang diceritakan merupakan kasus-kasus besar yang terjadi di Korea. Karena komunikasi antara detektif senior dan junior di waktu yang berbeda ini, kasus pembuhuhan berantai yang hampir 30 tahun (batas waktu kasus pembunuhan bisa diproses tidak boleh lebih dari 30 tahun) tidak terungkap akhirnya bisa terpecahkan. Sepanjang film banyak kejutan yang terjadi yang membuat drama ini jauh dari kata membosankan. 


3. Uncontrollably Fond

Dimainkan oleh Kim Woo Bin dan Baek Suzy
Tayang : TVN (mulai tayang bulan Juli 2016)

Drama ini dimainkan dua artis papan atas Korea Selatan. Namun sayang, karena alurnya yang dinilai lambat membuat rating mereka tak begitu bagus. Mungkin selain lambat, kisahnya juga sedih. Jadi kurang mendapatkan tempat para pecinta drama yang maunya happy terus. Tapi dua alasan tersebut justru tak menyurutkan semangat untuk terus menonton. Karena alur cerita dirangkai dengan cukup baik.

Bercerita tentang Shin Joon Young (diperankan Kim Woo Bin) menjadi aktor top sekaligus penyanyi yang tahu bahwa hidupnya tak lama lagi . Klise? Tunggu dulu. Ia kemudian mencari teman SMA-nya, Noh Eul (diperankan Baek Suzy) yang sudah lama lost contact. Joon Young dan Noh Eul memiliki hubungan yang rumit setelah tabrak lari yang menewaskan ayah Noh Eul yang ternyata secara tidak langsung melibatkan Ayah biologis Joon Young. Bagian paling menarik adalah dilema yang dialami Joon Young. Antara membuat Noh Eul jatuh cinta seperti keinginannya atau membencinya agar nantinya ketika ia meninggal, Noh Eul tidak terlalu sedih.




That's it. Drama yang layak ditonton ulang. Menurut kalian apa saja drama yang bisa ditonton ulang? Kasih tau dong. Comment ya... 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

Hai. Namaku Nanda. Anaknya suka cerita lewat tulisan dan suka belajar tentang kehidupan. Terima kasih sudah mampir, ya!

Follow My Instagram

  • Instagram

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • ▼  2019 (4)
    • ▼  September (1)
      • Review Drama Arthdal Chronicles
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
  • ►  2018 (16)
    • ►  December (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (7)
    • ►  February (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  November (2)
  • ►  2013 (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2012 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  February (3)
  • ►  2011 (18)
    • ►  November (5)
    • ►  October (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (3)
  • ►  2010 (13)
    • ►  December (1)
    • ►  March (11)
    • ►  January (1)
  • ►  2009 (3)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2008 (1)
    • ►  December (1)

Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose