• Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download
facebook twitter instagram linkedin

nanda pangesti

Sinopsis Arthdal Chronicles

By Source (WP:NFCC#4), Fair use, https://en.wikipedia.org/w/index.php?curid=61266070

Drama kolosal atau historical biasanya membosankan. Atau justru dangkal. Namun tidak untuk drama korea yang diproduksi oleh TVN ini. Ada warna baru yang coba ditampilkan dan berhasil memikat penontonnya.

Drama ini mengisahkan tentang pria bernama Eun Seom (diperankan oleh Song Joong-Ki) yang terlahir sebagai Igutu. Ibunya menjauhkan Eun Seom dari kota kelahirannya, Arthdal karena di sana seorang Igutu (darah campuran Klan Neanthal dan Klan Saram) dianggap kutukan. Nyawa Eun Seom pun terancam jika ketahuan dia seorang Igutu. Eun Seom kemudian tumbuh bersama dengan Suku Wahan yang bisa dibilang primitif. Cara mereka hidup menyatu dengan alam tanpa mengeksploitasinya. Sistem perdagangan Suku Wahan pun masih menggunakan sistem barter.

Namun nasib membawa Eun Seom ke Arthdal setelah Suku Wahan diserang oleh pasukan Arthdal. Dia mencoba menyelamatkan Tan Ya (Kim Ji-Won), satu-satunya temannya yang juga calon kepala Suku Wahan. Tidak mudah bagi Eun Seom karena pasukan Arthdal yang cukup modern. Ketika Suku Wahan bahkan tidak menggunakan kuda sebagai alat transportasi, masyarakat Arthdal sudah membuat pedang. Mereka bahkan melakukan kegiatan penambangan yang menunjukan betapa modern kehidupan mereka.

Warna baru yang disuguhkan dalam drama ini cukup menarik. Dimana masyarakat modern belum tentu lebih baik dibandingkan mereka yang masih primitif atau ketinggalan dalam modernisasi. Karena masyarakat Arthdal yang sudah modern dan cukup untuk membuat kehidupan mereka lebih baik, justru makin serakah. Mereka ingin menguasai daerah lain belum lagi perebutan kekuasaan antara Ta Gon dengan ayahnya, San Woong.

Tentang perebutan kekuasaan dengan segala intriknya memang banyak diangkat. Baik untuk genre kolosal atau historical atau drama. Namun drama ini menggunakan medium lain yang menampilkan keserakahan masyarakat modern. Sementara masyarakat yang tak tersentuh pemikiran modern justru hidup dengan damai tanpa kekurangan. Gambaran ini seolah menyentil para penontonnya yang menganggap semakin modern berarti semakin baik.

Arthdal Chronicles Seasons 3

Spoiler Alert. Buat yang belum menonton season 1 dan 2 (Arthdal Chronicles eps 1 sampai eps 12) mungkin lebih baik skip bagian ini kalau tidak ingin terkena spoiler.

Konon karena saking seriusnya drama Arthdal Chronical dibuat, tim produksi memutuskan memecahnya menjadi tiga season. Dimana ada jeda satu bulan antara season 1 dan 2 dengan season 3. Sebagai penggemar berat drama satu ini tentu dibuat tidak sabar dengan kisah Eun Seom dan Tan Ya selanjutnya. Apalagi cerita sedang seru-serunya.

https://0.soompi.io/wp-content/uploads/2019/08/30110301/kim-ji-won.jpg

Season dua (Arthdal eps 12) ditutup dengan tarian spirit Tan Ya ketika diminta membuktikan bahwa ia keturunan langsung dari Asa Shin. Masyarakat Arthdal baru akan percaya kalau ia menemukan lonceng bintang yang disembunyikan Asa Shin di Kuil Agung. Tan Ya berhasil menemukannya dan membuat seluruh masyarakat serta petinggi Arthdal bersujud. Meski harus menunggu sebulan tapi kelanjutan nasib Eun Seom dan Tan Ya memang layak dinantikan.

Tampaknya di season tiga, Tan Ya akan menggantikan Asa Ron sebagai pemimpin spiritual Arthdal. Dan perubahan besar pun akan terjadi di Arthdal di bawah kepemimpinan Tan Ya. Namun masih ada Ta Gon (Jang Dong-Gun) pimpinan atau setara raja Arthdal yang pasti akan menghalangi langkahnya. Tugas Tan Ya lainnya tentu saja menemukan Eun Soem.

Arthdal Chronicles plagiat Game of Thrones?


Belakangan banyak juga yang mengaitkan Arthdal Chronicles dengan serial paling fenomenal Amerika, Game of Thrones. Ada beberapa tokoh yang dianggap mirip dengan cerita Game of Thrones seperti Ta Gon dan Taealha. Serta pakaian yang digunakan oleh klan Saram. Karena bukan penggemar GOT dan tidak menontonnya maka sulit untuk menjawab hal tersebut benar plagiat atau tidak. Mungkin kalian memiliki pendapat sendiri tentang kemiripan drama korea satu ini dengan GOT.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Drama remaja satu ini jangan dianggap sepele. Kesannya memang enteng. Love Alarm. Drama ini menceritakan tentang aplikasi bernama Joalarm yang bisa mendeteksi perasaan suka/cinta. Adanya aplikasi ini konon untuk mempermudah seseorang menyatakan perasaannya. Tinggal nyalakan aplikasi ini dan dekati target dalam radius 10 meter. Aplikasi akan otomatis berbunyi memberi tanda kalau ada yang menyukaimu. Untuk mengetahui apakah orang itu juga menyukaimu balik juga mudah. Aplikasimu juga akan berbunyi. Tidak perlu lagi kode-kode, masa-masa pendekatan yang panjang, atau tetek bengek lainnya yang menguras emosi. Kayaknya Indonesia butuh Joalarm.

Kemunculan Love Alarm sendiri menjadi misteri. Tidak diketahui publik siapa pembuatnya. Yang dijelaskan bahwa dia anak SMA yang ingin menyatakan cinta kepada gadis yang disukai. Tapi karena malu dia sengaja membuat Joalarm. Dengan begitu dia bisa membunyikan bel gadis yang dia sukai. Tetapi ternyata tidak membantu sama sekali. Bahkan menjadi boomerang buat dia (maaf ga sebutin nama karena ga mau spoiler) dan juga Kim Jo Jo (Kim So Hyun).


Di Kim So Hyun new drama ini, menceritakan tentang cinta segitiga antara Jo Jo dengan Seung Oh (diperankan aktor pendatang baru Song Kang) dan Hye Young (diperankan oleh Jung Ga Ram yang mendapatkan penghargaan Aktor Terbaik tahun 2016). Jujur melihat sosok Song Kang di drama ini sekilah mirip Ahn Jae Hyun.

Love Alarm is Best Kim So Hyun Drama 


Menurut saya, ini adalah drama terbaik Kim So Hyun sejauh ini. Dia tetap konsisten pada drama remaja komedi romantis. Namun kali ini berbeda. Ada cerita yang rumit dibanding drama remaja pada umumnya.

Konflik di drama ini muncul ketika seharusnya ada perasaan yang tidak perlu diungkapkan. Seperti perasaan Hye Young pada Jo Jo yang sudah menjadi pacar sahabatnya Seung Oh. Begitu juga ketika Jo Jo ingin putus dari Seung Oh. Ia sengaja memasang perisai yang membuat Joalarm miliknya tidak berbunyi. Dia sendiri menjadi sulit mengetahui perasaannya sendiri tanpa aplikasi.

Jadi meskipun dirancang untuk mempermudah urusan cinta, Joalarm justru membuatnya makin rumit. Karena orang menjadi sangat bergantung dengan aplikasi dibandingkan perasaannya sendiri.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Pemain Drama At Eighteen/ Moment at Eighteen

Poster Drama "At Eighteen"


Sebagai penggemar idol grup Wanna One, pastilah kenal dengan salah satu personilnya yang bernama Ong Seung Woo. Bisa dibilang ketenaran Ong Seung Woo berada di peringkat nomor dua setelah Kang Daniel di Wanna One. Kini ia bersolo karir setelah Wanna One bubar. Yang mengagetkan adalah ia melakukan debut akting di drama remaja "At Eighteen" dan langsung dipercaya menjadi pemeran utama. Tentu saja banyak yang bertanya-tanya bagaimana dengan kualitas akting Ong Seung Woo di drama ini.

Di drama ini Ong Seung Woo memerankan seorang pelajar SMA bernama Choi Jun Woo. Ia dikeluarkan dari sekolah dan bertemu cinta pertama di sekolah barunya. Karakternya Choi Jun Woo disini pendiam dan kesepian. Ia anak dari single mother yang selalu ditinggal bekerja oleh ibunya. Karena sadar diri, ia selalu menghindari masalah yang akan membuat ibunya lebih terbebani. Namun jiwanya mulai memberontak karena terus-menerus mendapatkan ketidakadilan. Sewajarnya anak SMA pada umumnya yang mulai menemukan jati diri, disinilah karakter Jun Woo mulai berubah sedikit demi sedikit.
Kang Hyang Gi dan Ong Seung Woo

Yang menjadi cinta pertama Ong Seung Woo disini adalah Yoo Soo Bin. Diperankan dengan baik oleh Kang Hyang Gi. Ia popular dan berasal dari keluarga kaya. Tipikal cewek sempurna yang bikin iri anak-anak cewek lain di sekolahnya. Sayangnya kehidupan dia sebenarnya enggak kalah menyedihkan karena punya ibu seperti Han Seo Jin di drama Sky Castle. Maunya anak yang nilainya bagus, bisa masuk universitas ternama, terus bisa dibanggain di depan orang-orang.

Nasib Ma Hwi Young lebih menyedihkan lagi. Selain nilai harus bagus seperti kakaknya, dia juga mendapatkan kekerasan dari ayahnya. Sampai-sampai dia hidup penuh kepalsuan. Dari luar dia tampak baik dan lembut tapi sebenarnya licik serta menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Sayangnya visual Ma Hwi Young disini sedikit mengganggu menurutku. Bukan masalah cakep atau jelek. Tapi karena Jun Woo dan Soo Bin memiliki wajah imut, sementara Shin Seung Ho yang membawakan karakter Ma Hwi Young tampak seperti anak kuliahan. Agak dipaksakan bersanding dengan Ong Seung Woo dan Kang Hyang Gi.

Balik lagi ke kualitas akting Ong Seung Woo. Sebenarnya dia sudah membawakan karakter Jun Woo dengan baik. Walaupun tidak bisa dibilang spesial. Tapi cukup lumayan untuk seseorang yang berakting untuk pertama kali.

Sinopsis Drama "At Eighteen" atau "Moment at Eighteen" yang menarik.

Mengenang masa SMA pasti rasanya nano-nano. Banyak suka dan dukanya. Entah masalah keluarga atau masalah cinta dan pertemanan. Sedikit banyak, cerita "At Eighteen" membuat kita bernostalgia masa SMA. Dari cerita cinta pertama yang bikin blushing-blushing tomat berapapun usiamu sekarang sampai tahu bagaimana rasanya dulu harus bohong karena malu dengan identitas kita sesungguhnya. Namanya juga masa pencarian jati diri.

Kisah cinta pertama Ong Seung Woo disini manis sekali. Menyukai seseorang untuk pertama kalinya sampai enggak tahu harus gimana. Malu-malu tapi banyak rindunya. Selain itu pengembangan karakter lain pun tak kalah menarik. Seperti kisah salah satu karakternya, Ro Mi yang mengaku anak direktur rumah sakit. Padahal ayahnya hanya supir direktur tersebut. Karakter seperti ini sebenarnya ada di setiap sekolah. Entah lebih parah atau lebih ringan. Ada saja anak yang belum bisa menerima dirinya sendiri dan latar belakang keluarganya hingga rela berbohong.

Sayangnya beberapa drama yang mengambil setting anak SMA, terlalu menghiperbola cerita. Seperti ketika Ma Hwi Young yang salah menjawab satu soal di pelajaran matematika saat UTS. Ibunya sampai datang ke sekolah dan akhirnya soal tersebut jadi bonus. Semua jawaban menjadi benar. Ini salah satu scene yang lebay sih.

Tapi secara keseluruhan drama ini tidak membosankan untuk diikuti.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Jujur kembali lagi menulis di blog ini setelah menonton drama terbarunya Jang Ki Young. Bukan karena ketampanannya yang disebut-sebut tiap dia main drama ya. Tetapi karena tiga karakter wanita di dalam drama ini. Saking kerennya langsung nulis lagi di blog ini. Siapa tahu bisa membantu kalian yang cari referensi drama yang bagus.

Kalau kalian mengharapkan kisah asmaranya yang jadi cerita utama, sepertinya harus kecewa. Karena romance tidak terlalu mendapatkan banyak tempat seperti drama korea biasanya. "Search" lebih menitik beratkan pada cerita karir wanita-wanita ambisius. Ketika banyak wanita ambisius di drama lain menjadi karakter antagonis, disini dikasih spotlight. Membuat kita yang nonton berpikir "Ternyata banyak kok wanita ambisius (dalam berkarir) di luar sana". Atau lebih dari itu. "Ternyata nggak salah kalau jadi wanita gila kerja".

Media komersil seperti kumparan melebeli drama ini dengan kata progresif. Tepat sih kata itu. Karena memang membuka pandangan tentang wanita karir.

Meskipun keambisiusan tingkat dewa para pemeran karakternya, ketiga cewek ini memang profesional, cerdas dan tegas. Mereka tahu apa yang mereka inginkan dalam hidup. Yah namanya hidup pasti ada rintangannya ya.

Scene Lee Da Hee & Im Soo Young

Im Soo Young membawakan karakter Baek Ta Mi. Ia mendapatkan perlakuan tidak adil dari kantornya. Tapi dia tidak tinggal diam. Membuat rencana balas dendam yang fair. Karakter yang dibawakan Lee Da Hee lebih keren lagi. Dia menjadi mantan atlet yudo bernama Cha Hyun yang kini bekerja di perusahaan portal web. Ia mengubah mimpinya memenangkan medali menjadi wanita kaya yang pintar berkelahi. Kadang dia pakai otak, tapi banyak juga yang pakai otot.

Satu lagi yang meskipun antagonis tapi layak diacungi jempol. Jeon Hye Jin. Dia membawakan karakter karakter Song Ga Yeong. Dulu dia dikagumi karena idealis. Namun kemudian dikontrol oleh ibu mertuanya untuk melakukan pekerjaan kotor. Dia seolah simbol wanita yang terkekang karena pernikahan.

Soal sentuhan romance-nya, jangan khawatir. Ketiga karakter tadi memiliki kisahnya masing-masing dengan formula yang pas.

Udah nonton belum? Setuju ga kalau Im Soo Young dan Lee Da Hee emang keren di drama ini?

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Chae Do Jin (diperankan Nam Da Reum) menggendong adiknya melewati jalan setapak yang dipenuhi pohon sakura dengan bunga yang sedang mekar. Sebuah mobil melintas. Di dalamnya Han Jae Yi (diperankan Ryoo Han Bi) dan keluarganya serta seekor anjing. Saat itulah cerita tentang cinta pertama mereka berawal. 

Jae Yi dan Chae Do Jin.
Kisah mereka bukan lagi menjadi kisah yang manis ala anak SMA. Karena Ayah Do Jin, Yoon Hae Jae yang ternyata seorang psikopat. Ia membunuh banyak orang termasuk orang tua Jae Yi. Sejak saat itu, keduanya terpisah. Saling mengganti nama untuk melupakan masa lalu sekaligus lari dari kejaran media yang terus mengulik cerita mereka. 

Jae Yi dewasa.
Kehidupan mereka menjadi berat setelah peristiwa itu. Saat sudah dewasa, Do Jin dewasa (diperankan Jang Ki Young) menjadi seorang detektif dan Jae Yi dewasa (diperankan Jin Ki Jo) meniti karir menjadi artis seperti ibunya. Dari balik penjara, Yoon Hae Jae tetap membuat kehidupan keduanya sengsara. Ia mengeluarkan buku biografi tentang kisah hidupnya dan membuat Do Jin dan Jae Yi kembali dikejar-kejar media untuk wawancara. 

Terlepas dari intervensi media, Do Jin dan Jae Yi saja sudah kesulitan menghadapi perasaan mereka. Bagaimana mencintai pria yang Ayahnya telah menghancurkan keluargamu dengan tragis? Bagaimana pula, Do Jin harus memandang Jae Yi dengan kepala tegak setelah perbuatan Ayahnya? 

Chae Do Jin dan Jae Yi.
Come and Hug Me memang tampil sangat menjanjikan di episode-episode awal. Ceritanya juga kuat. Sutradara dengan baik membangun perasaan Do Jin dan Jae Yi. Sayang drama ini memiliki tempo yang sangat lambat. Beberapa adegan dibuat terlalu panjang. Beberapa juga tidak perlu untuk ditampilkan. 

Saya tidak keberatan dengan drama-drama dengan tempo yang lambat. Beberapa drama dengan tempo seperti ini Saya lahap habis tanpa mengeluh seperti Uncontrollaby Fond dan Mother. Biasanya drama dengan tempo ini justru memiliki cerita yang serius, riset yang mendalam, kisah mengharukan dan mengaduk-aduk perasaan. 

Mungkin "Come and Hug Me" bukan tipe drama yang Saya sukai. Merasa membutuhkan kesabaran ekstra untuk menghabiskan setiap episodenya. Padahal akting Jang Ki Young dan Nam Da Reum serta Jin Ki Jo dan Ryoo Ha Bin sangat keren. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Jangan bandingkan drama “Investigation Couple” dengan drama-drama investigasi lain yang sempat booming seperti “Voice”, “Signal” atau “Tunnel”. Drama ini memiliki keseruan yang berbeda.

“Voice” membutuhkan karakter seperti Kang Kwon Jo (diperankan Lee Ha Na) yang memiliki kemampuan mendengar suara-suara yang tak didengar telinga biasa. Sedangkan “Signal” memberikan bumbu fantasi berupa walkie-talkie yang bisa menghubungkan detektif Park Hae Young (diperankan Lee Je Hoon) di masa depan dengan detektif Lee Jae Han (diperankan Cho Jin Woong) di masa lampau. Begitu pula dengan “Tunnel” yang menggunakan bumbu fantasi berupa terowongan yang mengantarkan detektif Park Kwang Ho.


Maka dibandingkan dengan drama-drama tsb, “Investagation Couple” terasa polos. Tapi justru ini menariknya. Drama ini menceritakan tentang seorang jaksa baru (roockie) bernama Eun Sol (Jung Yoo Mi) dan seorang dokter forensik Baek Beom (Jung Jae Young). Eun Sol berasal dari keluarga kaya yang tak bangga dengan pilihan hidup Eun Sol. Ia bertekad menjadi jaksa yang baik menangkap penjahat demi korban. Sementara Baek Beom telah 10 tahun menjadi dokter forensik setelah kecelakaan yang dialaminya.


Eun Sol adalah manusia biasa, tak memiliki kemampuan spesial apapun. Tapi ia selalu berusaha keras mengungkap teka-teki kasus yang ditanganinya. Sementara Baek Beom yang memiliki perangai buruk menjadi sosok yang sulit dipahami orang-orang di sekitarnya. Jangankan para jaksa, rekan kerjanya saja membencinya. Namun Eun Sol langsung mempercayai Baek Beom walaupun ia sering dibuat kesal. Eun Sol fokus menemukan penjahat sedangkan Baek Beom tak mau berbicara selain fakta yang ditemukan dari hasil autopsi.

Tiap episode dalam drama ini terasa seru. Kita dibuat menebak-nebak siapa penjahatnya. Tapi tebakan tsb sering kali salah. Eun Sol juga berkali-kali hampir terjebak. Baek Beom terkadang membantunya, terkadang juga memberikan petunjuk secara tersirat.


Jangan bayangkan duo jaksa dan dokter forensik ini romantis ala drama korea romantis pada umumnya. Judul lain drama ini “Partner for Justice” yang rasanya memang lebih pas untuk mewakili cerita. Partner bukan Couple. Rekan bukan Pasangan.

Sebenarnya ada yang sedikit mengganggu dalam drama ini. Yakni ketika Eun Sol berkali-kali meminta Baek Beom bersimpati dengan korban. Padahal jelas-jelas Baek Beom adalah orang yang logis dan hanya mau berbicara dengan fakta. Terus Baek Beom juga tipikal orang yang kurang ramah. Padahal kalau mau komunikasi, ia dan Eun Sol adalah partner yang cocok.







Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Drama Korea dan serial televisi buatan Amerika memiliki penikmat masing-masing. Menurut Saya, ada banyak yang menyukai drama Korea tapi tak akan melirik serial Amerika. Begitu pun sebaliknya. Sebenarnya, dulu ketika pertama kali mengetahui jika Korea akan mengadaptasi beberapa judul serial Amerika, Saya menaruh harapan yang tinggi. Sayangnya harapan itu berakhir dengan kecewa. Semua judul drama adaptasi tidak ada yang berkesan. Saya lalu menyimpulkan bahwa drama Korea yang mengadaptasi serial  Amerika bukan tipe yang akan saya sukai. Meskipun saya juga menikmati beberapa serial Amerika. 

Jang Dong Gun dan Park Hyung Sik di drama Suits.
Tapi pengecualian untuk Park Hyung Sik. Sungguh sayang melewatkan dia begitu saja hanya karena saya tidak menyukai drama Korea adaptasi serial Amerika sebelumnya. Park Hyung Sik memerankan karakter Go Yeon-Woo, pemuda yatim-piatu yang dibesarkan oleh neneknya. Yoen-Woo terlahir jenius hingga ia bisa menjadi seorang trainee di kantor pengacara ternama setelah direkrut secara kebetulan oleh Choi Kang Seok. 


Sebagai anak muda yang hanya sekolah hukum dengan nama orang lain (dan dibayar), ia hanya tahu bagaimana menegakan keadilan dengan ilmunya. Tapi realitanya berbeda. Ia dihadapkan dengan trik dan tipu daya baik rekannya sesama pengacara atau justru kliennya sendiri. Beberapa kali ia terancam kehilangan pekerjaan. Satu-satunya orang yang bisa ia percaya adalah Choi Kang Seok, mentornya. Namun Choi Kang Seok bukan tipe orang yang peduli dan mengoyomi Yoen Woo. Sering kali, ia harus menghadapi persoalan sendiri.

Menariknya adalah perdebatan antara Choi Kang Seok dengan Go Yoen Woo tentang keadilan. Yoen Woo memiliki pemahaman yang sama dengan kita tentang keadilan. Bahwa orang yang bersalah harus dihukum dan yang tidak harus dibebaskan. Tapi Choi Kang Seok lebih kompleks memahami arti tsb karena jam terbangnya sebagai mantan Jaksa dan pengacara. Disisi lain, ia juga terkadang melupakan arti dari keadilan itu sendiri.
Keadilan adalah memberi kembali semua orang apa yang pantas ia dapatkan. -Simonides, Filsuf Yunani.
Menonton episode satu dan dua, saya melihat ada potensi drama ini akan seru. Sementara di episode ketiga hingga enam, Saya justru kehilangan keseruan dari cerita. Penulis seolah terburu-buru menceritakan kasus per kasus. Mungkin karena pengaruh  serial Amerika yang memiliki alur cepat. Sutradara pun tak mampu memberikan ruh dalam beberapa adegan. Beberapa dialog kurang memiliki makna atau arti baik sisi cerita maupun karakter. 

Park Hyung Sik pun kehilangan pesona. Karena memang di drama serius sementara dia memerankan karakter orang miskin sehingga mungkin dianggap tidak tepat jika terlalu mengeksploitasi ketampanannya. Namun terlepas dari fisik, Park Hyung Sik juga tidak bisa membuat saya percaya jika seorang jenius. Beberapa adegan memperlihatkan jika ia dibodohi atau sekedar kebingungan. Tapi sepertinya memang bukan kesalahan Park Hyung Sik. Melainkan naskah yang menuntut dia demikian.

Keseruan yang Saya tunggu-tunggu baru terasa di episode ketujuh. Bukan hal yang baik bagi sebuah drama jika baru menarik perhatian penonton harus menghabiskan enam episode sia-sia. Takutnya keburu kabur. Mungkin ini drama adaptasi pertama yang akan Saya lahap habis.

Go Sung Hee dan Park Hyung Sik.

Kabar gembiranya drama ini tetap memberikan sentuhan romantis melalui Park Hyung Sik dan Go Sung Hee. Meskipun romantisme yang sangat tipis jika dibandingkan drama korea yang biasa mengumbar adegan-adegan sejoli.

Berikut beberapa judul drama adaptasi yang gagal membuat saya terus menonton sampai akhir. 

Criminal Minds. Cuma nonton dua episode.

Mistress. Bertahan satu episode saja.

Entourage. Mencoba bertahan lebih dari tiga episode.




Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Nama besar Lee Kwang So sebagai Prince of Asia tidak bisa membuat saya langsung melirik drama yang dibintanginya. Bahkan sebelumnya dia juga menjadi pemeran utama di drama "The Sound of Your Heart" juga terlewat dari pantauan. (Mungkin udah ada yang liat drama "The Sound of Your Heart? Bagus ga?). Untuk program reality show, Kwang So memang masternya. Tapi untuk drama atau film, nama dia belum bisa menjadi jaminan. Apalagi sedang banyak drama yang bagus tayang musim ini.  


Setelah sempat ragu, akhirnya tergerak juga untuk menonton. Di luar ekpektasi, ternyata cerita drama ini sangat bagus dan realistis. Ratingnya pun cukup lumayan mengingat drama ini tayang di tvN, tv kabel Korea. Kepolisian di hampir seluruh negara selalu dipandang sebelah mata. Tapi Kwang So dan kawan-kawan membuka mata dengan memperlihatkan kehidupan mereka yang serba sulit. Caranya menurutku agak berbeda dengan drama yang mengangkat cerita serupa. 

Drama "Live" berhasil menggambarkan kehidupan yang sangat nyata para anggota kepolisian. Mereka juga manusia seperti kita. Bukan drama yang heroik seorang polisi yang memiliki tujuh nyawa yang gigih mengejar penjahat. Justru inilah yang membuat Saya akhirnya menghabiskan drama ini sampai selesai. 



Polisi di drama ini mengkhususkan pada kehidupan polisi patroli Korea. Mereka adalah orang-orang yang bersenjata tapi tak bisa menggunakan senjatanya karena terikat peraturan penggunaan senjata. Harus ada alasan kuat kenapa senjata tersebut harus digunakan. Jika dianggap menggunakan senjata tidak semestinya maka mereka akan diselidiki atau bisa terancam dipecat. Padahal yang mereka hadapi setiap hari adalah penjahat yang bisa saja menembak mereka terlebih dahulu. Dan jika mereka mati karena terlalu berhati-hati atau ragu menggunakan senjata, maka tak perlu lagi diselidiki.



Ada satu scene yang membuat kasian kepada para polisi ini. Suatu ketika seorang pria yang mengidap paranoid menembak polisi patroli dengan senjata rakitan. Di depan para polisi lainnya. Tentu saja polisi langsung mengeluarkan senjata dan menembak pria bersenjata meskipun rakitan tersebut. Ujungnya para polisi tersebut harus diselidiki untuk menentukan apakah perlu menggunakan senjata api. 

Lee Kwang So dan Jung Yu Mi harus memerankan polisi baru yang tak menyangka bahwa kehidupan polisi begitu berat. Ibu Han Jung Oh (karakter yang diperankan Jung Yu Mi) bahkan tak menyetujui anaknya menjadi polisi karena tak ingin anaknya dalam bahaya. Apalagi gaji polisi menurutnya tak sebanding dengan nyawa anaknya yang selalu di ujung tanduk. 


Jangan berharap Kwang So akan memerankan karakter polisi yang gagah berani, charming dan digilai wanita. Jung Oh saja menolak cintanya dan lebih memilih menerima cinta seniornya Choi Myung Ho yang tampan. Karakter Yeom Sang So yang dibawakannya adalah pria biasa yang banyak melakukan kesalahan karena terlalu bersemangat. Tapi terlepas dari kesalahan-kesalahan bodohnya sebagai anggota polisi baru, ia adalah polisi yang memiliki dedikasi tinggi untuk melindungi masyarakat dan melawan penjahat.

Sayang, episode satu sangat membosankan. Pasti banyak yang enggan meneruskan episode berikutnya karena sudah terlanjur menilai drama ini tak menarik. Saran saya, coba bertahan. Karena episode dua mulai dapat dinikmati tanpa rasa bosan. 

Terima kasih sudah membaca ^_^
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Something in the Rain atau Pretty Noona Who Buys Me Food menceritakan tentang kisah cinta beda usia dimana pria lebih muda dibandingkan wanitanya. Secara harfiah tidak ada yang salah jika wanita mencintai pria lebih muda atau pria mencinta wanita yang lebih tua. Tapi ada stigma negatif yang menempel pada kisah seperti ini. 


Yoon Jin Ah bisa dibilang tak beruntung soal asmara. Di masa lalu, Ia sangat popular di kalangan pria karena kecantikannya. Tapi sekarang usianya sudah memasuki 35 tahun. Pria-pria yang dulu mengejarnya mungkin sudah berkeluarga. Kekasihnya Lee Gyu Min (diperankan Oh Ryong) meminta putus dengan sangat menyakitkan. Di saat yang sama Ibunya justru terus meminta ia segera menikah. Tipikal Ibu yang kolot yang menginginkan menantu kaya dan berpendidikan semakin membuat Jin Ah merana. 


Seo Joon Hee kembali ke kehidupan Jin Ah di saat yang tepat. Ia baru saja pulang dari luar negeri dan bekerja di gedung yang sama dengan Jin Ah. Ia sudah menganggap Joon Hee seperti adik karena memang ia adalah adik dari sahabat karibnya. Tapi Joon Hee berubah menjadi pria dewasa sepulangnya dari luar negeri. Ia mampu mengisi kekosongan di hati Jin Ah. 

Jin Ah dan Joon Hee sempat serba salah menghadapi perasaan mereka masing-masing. Mengingat usianya, Jin Ah tentu saja malu dengan perasaannya kepada Joon He. Sementara Joon Hee terlalu takut mendapatkan penolakan. Jin Ah yang memiliki karakter "dipikir ntar" akhirnya menggenggam tangan Joon Hee terlebih dahulu.


Setelah berpacaran pun, keduanya harus merahasiakan hubungan mereka sementara waktu. Tak ingin membuat orang-orang syok dan mencari waktu yang tepat. Tak ada jaminan Jin Ah akan mendapatkan restu orang tuanya. Terutama Ibu Jin Ah yang memandang rendah Joon Hee karena latar belakang keluarganya. Pekerjaannya sebagai designer game juga tak menolong padangan emak-emak satu ini. Belum tentu juga Seo Kyung Sun, kakak Joon Hee dan sahabat Jin Ah memberikan restunya, meskipun ia sangat menyayangi sahabatnya. Tapi berlama-lama menyembunyikan hubungan mereka kepada Kyung Sun juga bisa membuat dia merasa dikhianati. 


Bisa jadi judul "Pretty Noona Who Buys Me Food" memang terinspirasi dari kisah Song Jong Ki dan Song Hye Kyo. Kalimat itu diambil dari kata-kata Song Hye Kyo ketika ditanya tentang kedekatannya dengan Song Jong Ki dan Yoo Ah In. "Bagi Song Jong Ki dan Yoo Ah In, Aku adalah Noona baik hati yang membelikan mereka makanan". Hmm... mungkin juga Sutradara sekedar memanfaatkan popularitas SongSong Couple untuk menarik penonton. 

Tapi tampaknya gimmick SongSong Couple tersebut hanya terasa di awal saja. Selanjutnya, penggemar drama korea tertarik dengan ketampanan Jung Hae In, senyum Jung Hae In dan tentu saja chemistry Jung Hae In dengan Son Ye Jin. Ini pertama kalinya bagi Jung Hae In menjadi first lead (tokoh utama) di dalam drama. Sebelumnya di While You Were Sleeping dan Prison Playbook, ia hanya menjadi second lead dan peran pendukung saja. Tapi sudah dapat diprediksi jika ia akan segera di puncak popularitas. 


Tonton kemesraan mereka
Kiss Scene Jung Hae In dan Son Ye Jin

Dan wajah Jung Hae In dari tahun ke tahun
Transformasi Jung Hae In 2013-2018

Info terupdate
Jung Hae In - Son Ye Jin Real Couple?



Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Lee Ji An (IU) yang dingin di drama My Ahjussi.

My Ahjussi atau My Mister menjadi drama paling kontroversial saat ini. Drama ini langsung mendapatkan protes bahkan ketika masih dalam tahap pemilihan pemain karena karakter utama, Lee Ji An dan Park Hoon Dong yang memiliki perbedaan usia sekitar 20 tahun. Dalam cerita, Lee Ji An masih berusia 20 tahun dan Park Hoon Dong 40 tahun. Publik Korea sangat sensitif dengan kisah semacam ini. 

Kemungkinan yang ditakutkan adalah akan banyak gadis usia muda yang biasanya mudah terbuai oleh cerita drama, mengharapkan pria yang lebih tua untuk menyelesaikan masalah kehidupan yang dihadapi. Karena biasanya banyak drama korea yang hanya menjual fantasi dan melodrama semata. Untungnya My Ahjussi merupakan drama yang berbeda. Drama ini sangat realistis dan matang.

Lee Ji An (IU) dan Park Hoon Dong (Lee Sun Kyun)

Sebenarnya setelah tayang, drama IU ini kembali mendapatkan protes karena adegan kekerasan antara Lee Ji An dan Lee Kwang Il (yang diperankan Jang Ki Yong). Ada yang menganggap jika adegan itu seperti "meromantiskan kekerasan dalam pacaran". Padahal hubungan antara keduanya belum diungkap. Dan adegan kekerasan ini memang dibutuhkan dalam cerita. Kalau dihapus akan mengubah esensi cerita. Seharusnya juga tidak menjadi masalah karena drama ini tayang di TVN, saluran TV kabel Korea. Apalagi jam tayangnya pukul 21.30 jadi jauh dari jangkauan anak-anak. 

Akting IU menuai pujian.

Drama ini memang sangat realistis. Terutama soal karakter-karakter di dalamnya. Pertama Lee Ji An. Mungkin akan sangat biasa jika ditulis bahwa ia gadis miskin yang bekerja sebagai karyawan kontrak di kantor besar. Ia juga memiliki catatan kriminal karena membunuh rentenir yang menganiaya keluarganya. Membaca kemalangan Lee Ji An pasti bakal ada yang komentar, "ah klasik". Ya, saya juga mengeluarkan komentar seperti itu ketika belum menonton. 

Lee Ji An memakai kacamata untuk menutupi lebam di mata.

Karakter Lee Ji An dibawakan dengan baik oleh IU. Ia menunjukan peningkatan kualitas akting. Melihat Lee Ji An, kita akan melupakan IU yang cantik, ceria, multi-talented dan unyu-unyu. Karena dengan memilih karakter ini, Saya yakin IU berniat naik kelas dalam hal akting. IU berubah menjadi orang yang benar-benar dingin dan tidak tersentuh. 

Kehidupan Park Hoon Dong yang sempurna tapi tidak bahagia.

Jangan dikira kehadiran Park Hoon Dong dalam kehidupan Lee Ji An akan menjadi mata air di tengah padang gurun. Park Hoon Dong memiliki ketidakbahagiaannya sendiri meski posisinya di kantor adalah seorang manajer. Ia harus rela dipimpin oleh juniornya jaman kuliah dulu yang selalu ingin menjatuhkannya. Park Hoon Dong terkadang harus berada di posisi dimana ia merasa terhina. Kehidupan pernikahannya juga tak bahagia. 

Selain Park Hoon Dong dan Lee Ji An, ada dua karakter lagi yang menjadi sentral cerita. Yakni dua saudara Park Hoon Dong, Park Sang Hoon dan Park Gi Hoon. Mereka menilai kehidupan Park Hoon Dong sangat sempurna sementara mereka adalah wujud dari kehidupan yang gagal. Baik karir maupun keluarga. Sebagai saudara, Park Hoon Dong hanya bisa meratapi nasib Sang Hoon dan Gi Hoon sambil diam-diam meratapi nasibnya sendiri. Kalau di dunia nyata kalian menemukan banyak kegagalan, begitu pula di drama ini. 

Adik Park Hoon Dong. Sutradara gagal.

Kakak Park Hoon Dong. Pengusaha bangkrut dan memiliki banyak utang.

Karena itulah drama My Ahjussi menurut saya adalah drama paling realistis. Memiliki karir yang baik belum tentu hidupmu menjadi mudah. Bisa jadi tiap hari adalah neraka dan tiap pagi harus berangkat kerja bagai menuju tempat eksekusi. Begitu juga ketika kita berada di usia seperti Lee Ji An. Banyak pertarungan batin antara harapan dan realita. Pernah dengar kan kalimat "Hidup tak seindah drama korea". Nah nonton my ahjussi mungkin beberapa di antara kalian akan mensyukuri karena hidup nggak sepahit hidup Lee Ji An. 

Lee Ji An memata-matai kehidupan Park Hoon Dong.

Jika ada hal yang tidak realistis dalam drama ini, adalah sisi lain Lee Ji An sebagai kriminal kelas kakap. Seakan tak memiliki teman tapi ada dua orang yang membantunya. Pegawai kebersihan di kantor dan pemuda yang tampak seperti gamer tapi anehnya dia juga paham hacking. Entah apa hubungan Lee Ji An dengan pemuda mau melakukan semua perintah IU ini. Atau mungkin akan diungkap di episode pertengahan atau akhir. Lee Ji An dengan mudah memeras CEO perusahaan agar memberinya uang. Handphone Park Hoon Dong juga dipasang semacam penyadap sehingga ia mengetahui semua percakapan Park Hoon Dong. 

Terlepas dari hal yang tidak realistis jika dibandingkan dengan kerealistisan dalam drama ini, My Ahjussi sangat Saya rekomendasikan untuk ditonton. Cerita yang matang dan tidak biasa memberikan warna tersendiri di tengah drama-drama yang masih airing.

Selamat menonton sobat koreaku 😘



Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Sebelum menjawab mana yang lebih seru, Queen of Mystery Season 1 atau Queen of Mystery Season 2? Boleh lah kita flashback dikit cerita misteri ala detektif ini. 

Queen of Mystery Season 1

Di season pertama, Yoo Seol Ok yang diperankan oleh Choi Kang He (Yup, one of my favorite actress) menjadi istri seorang Jaksa. Ia harus mengubur cita-citanya sebagai polisi wanita dan fokus menjadi menantu dan istri. Yoo Seol Ok merasa terkekang dengan tugas-tugas rumah tangga dan ibu mertua yang terlalu mengaturnya. Sebenarnya dari situasi dan kondisi Yoo Seol Ok di season pertama sama sekali ga keren. Wanita yang sebenarnya tidak berdaya. Dari penampilannya pun aneh menurut saya. Walaupun akan banyak yang menilai gaya pakaian dia unik.

Yang membuat karakter ini keren adalah cara dia memecahkan sebuah misteri kasus kriminal. Rasa penasarannya tinggi dan pantang menyerah. Detektif yang memiliki julukan anjing gila, Ha Wan Seung diperankan (Kwon Sang Wo) diam-diam mengakui kemampuannya. Sayang, gengsinya sebagai detektif dan juga laki-laki membuat dia sering menghalangi Seol Ok saat akan memecahkan kasus. Tapi dari kasus ke kasus tiap episodenya asli bikin penasaran dan ga sabar menunggu episode selanjutnya (jikalau nonton pas masih airing). Kisah percintaan sahabat Seol Ok, Kyung Mi dengan Bae Kwang Tae bikin gemas di season pertama. Perolehan rating juga cukup sukses di angka 10%.

 Queen of Mystery Season 2.

Sementara itu, kondisi di season kedua jauh berbeda. Seol Ok memutuskan berpisah dengan suaminya yang tak menepati janji membuka kasus orang tua Seol Ok. Lalu apakah kisah cinta antara Seol Ok dan Wan Seung bersambut di season kedua? Jangan terlalu berharap ya. Cerita asmara mereka semulus jalan tol di Jakarta yang sedang macet nggak bisa gerak. Hiks. Sayang sekali. 

Choi Kang He dan Kwon Sang Wo.

Seol Ok jauh lebih keren dari penampilan dan karakternya. Ia seolah lepas mengekpresikan diri sendiri setelah terbebas dari pernikahan. Tapi Wa Seung tetap sama saja soal genggi. Dia konsisten. Bukan berarti hubungan mereka nggak manis ya. Seperti season pertama, Seol Ok dan Wa Seung selalu bersama kemana-mana. Memecahkan kasus demi kasus yang kebanyakan terjadi di sekitar Seol Ok. Mereka tidak pacaran tapi terlalu sweet kalau disebut sebatas teman. Gemash deh pokoknya. 

Untuk yang suka cerita detektif mungkin drama ini bisa jadi tontonan menghibur. Tapi jangan disamakan dengan Voice atau Signal yang sedikit (atau banyak) lebih serius. Kesimpulannya, Queen of Mystery season 2 lebih seru menurut saya. Karena Seol Ok tidak melulu berurusan dengan ibu mertua. Tapi fokus pada kasus dan cara pemecahannya. Tapi entah kenapa rating yang didapatkan tidak sesuai ekspektasi. Hingga saat ini Queen of Mystery season 2 hanya mendapatkan rating sekitar 6% saja. 

Buat yang udah nonton, menurut kalian lebih seru mana? 


Terima kasih sudah membaca. Sarange ~
Share
Tweet
Pin
Share
3 comments
Tulisan ini dibuat untuk mengapresiasi Drama yang masih airing yang menurut saya sangat bagus. Semoga membantu kalian yang sedang mencari drama untuk ditonton. Judulnya "a Poem a Day". Saya cenderung menilai bagus atau tidaknya drama atau film dari ceritanya. Aktor atau aktris justru tidak begitu penting. Dan "a Poem a Day" memiliki cerita dan gaya penyampaian yang sangat menarik. Penulis tampak sangat cekatan mengolah cerita dan Sutradara mampu memberikan roh di setiap adegan. Sementara aktor dan aktrisnya masih tergolong pendatang baru. Mereka memang tidak memasang wajah-wajah yang familiar. 
Tiada bunga yang mekar tanpa terayun. Bunga tercantik sekali pun semuanya mekar dengan terayun. Dengan terayun, mereka dapat tumbuh dalam posisi tegak. 
Itulah puisi pertama di episode pertama drama ini. Puisi yang sangat menyentuh bagi orang yang sedang putus asa. Dan memotivasi agar jangan tenggelam dalam keputusasaan itu. Beberapa drama menyelipkan puisi pada cerita. Masih ingat kan puisi di drama Goblin yang fenomenal itu? Kayaknya bukan kebetulan kalau saya menyukai drama ini. Karena baik Goblin atau a Poem a Day adalah favorit saya sepanjang masa. Menemukan mereka cukup membuat hati berbunga padahal tidak sedang jatuh cinta (jadi romatis gini mungkin efek puisi).

Pemeran Utama (Dari kanan ke kiri ) Jang Dong Yoon, Lee Yoo Bi, Lee Joon Hyuk.

Para pemain Drama a Poem a Day. Adalah yang kalian hapal?

Ceritanya tentang seorang physical therapist yang bekerja di rumah sakit bernama Woo Bo Young. Ia menjalani kehidupan yang berat setelah ayahnya meninggal. Tanpa sengaja menemukan puisi yang akhirnya menemaninya menjalani hidup. Sebenarnya ia ingin kuliah sastra namun bersikap realistis dengan memilih jurusan physiotherapy. Meski demikian, Bo Young sangat berdedikasi dalam bekerja. Salah satunya dengan menempelkan puisi untuk menyemangati pasiennya. 

Setiap moment terasa bagaikan kuncup bunga. 
Saat aku menyesalinya
Apa yang terjadi dahulu mungkin adalah harta yang berharga
Seseorang di masa lalu, sosok masa-masa itu
mungkin adalah hartaku yang berharga
Aku seharusnya lebih dekat denganmu
lebih sering berbicara denganmu
Aku semestinya lebih mendengarkanmu
lebih dalam mencintaimu
Aku bertanya-tanya apakah aku pergi karena lelah mendengarkanmu?
Seolah aku telah kehilangan akal
Aku seharusnya lebih menghargai masa itu
Setiap momen bagaikan kuncup bunga
Kuncup yang mekar ketika aku bersemangat
Karakter Bo-Young sangat real. Wanita mandiri dan bertanggung jawab. Bukan orang yang suka melemparkan pekerjaan pada orang lain. Berkali-kali menerima kesialan juga ia tanggapi dengan kata-kata, "Jangan emosi dan buang-buang waktu. Fokus pada pekerjaan!" untuk menyemangati diri sendiri.
 Lee Yoo Bi sebagai Woo Bo Young saat sedang bekerja.

Woo Bo Young saat menyatakan cinta.

Judul internasionalnya memang A Poem a Day tapi judul lainnya adalah You Who Forget Poetry. Tampaknya memang dikhususkan bagi mereka yang menyukai puisi. Tapi tanpa pengesampingkan cerita ya. Setiap episode kamu akan dimanjakan dua atau tiga puisi pendek yang dibaca oleh Bo Young. Kebanyakan mewakili perasaannya. Saya lebih suka judul You Who Forget Poetry. Karena drama ini membuat saya kembali buka-buka buku puisi yang lama tidak disentuh. 

Sebenarnya saat menulis ini, drama ini baru tayang 2 episode. Tapi saya sudah sangat suka dan ingin menulisnya. Semoga bisa menjadi referensi ya.


Bye. 
Foto Shin Jae Ha yang pernah jadi adik Lee Jong Suk di While You Sleeping. 
Jadi salah satu pemeran drama ini juga. Tapi bukan pemeran utama. 

Puisi Woo Bo Young lainnya
Puisi Woo Bo Young (part 1)
Puisi Woo Bo Young (part 2)
Puisi Woo Bo Young (part 3)

Puisi Woo Bo Young Saat Patah Hati
Puisi Woo Bo Young Saat Patah Hati (part 2)

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Mencari cerita drama korea yang nggak sekedar kisah cinta-cintaan semata? Ga mikirin tampang doang tapi lebih memilih cerita? Drama ini adalah jawaban yang tepat. Genre komedi yang tak biasa. Ceritanya juga matang. Terbaik sejauh ini.


Wise prison life dibintangi oleh Park Hae Soo. Ketenarannya (di Indonesia) memang tidak sebanding dengan Lee Min Ho atau Lee Jung Suk. Ketampanannya juga menurut saya agak ketinggalan jika dibandingkan dengan dua aktor itu. Tapi cukup lumayan. Dia sebenarnya bermain di drama "Legend of the Blue Sea" yang sayangnya saya tidak nonton drama punya Lee Min Ho ini.

Oke, jadi ceritanya, Park Hae Soo adalah atlet baseball terbaik Korea Selatan bernama Je Hyuk di drama ini. Ia tengah berada di puncak popularitas dan mendapatkan kontrak pemain internasional ketika tersandung kasus hukum. Saat mengejar pria yang memperkosa adiknya, Je Hyuk memukul kepala pria itu dengan batu hingga koma. Profesinya sebagai atlet, membuatnya dianggap memberikan perlawanan yang berlebihan.

Park Hae Soo dan Kristal f(x) jadi sepasang kekasih di wase prison life.

Ia harus beradaptasi dengan kehidupan di dalam penjara. Popularitasnya membawa keberuntungan sekaligus ancaman. Kebayangkan kalian dikelilingi penjahat yang sedang menjalani hukuman. Tapi seperti judulnya Wise Prison Life atau Prison Playbook, drama ini mengangkat bahwa penjahat juga manusia. Jadi jangan menilai seseorang hanya dari penampilan atau dosa masa lalu mereka saja.

Jangan juga mengira akan dibawa melow dengan kehidupan Je Hyuk. Atlet yang diagung-agungkan publik Korea ini ternyata sangat polos. Ia tak memiliki keahlian apapun selain baseball. Hal ini akan membuat terpingkal atau tepok jidat karena kekonyolannya. Teman satu sel Je Hyuk juga tak kalah konyol dengan kisah masa lalu mereka masing-masing.


 Teman satu sel Je Hyuk.

Han Yang. Karakter paling lucu. Dipenjara karena narkoba.

Je Hyuk termasuk beruntung dilindungi orang-orang baik. Salah satunya adalah sahabat masa kecilnya yang ternyata adalah seorang sipir penjara, Joon Ho yang diperankan Jung Kyung Ho. Ia dan Je Hyuk dulu sama-sama bermain base ball hingga mereka mengalami kecelakaan mobil. Keduanya alami cidera yang membuat mereka tak bisa bermain lagi. Joon Ho menyerah sementara Je Hyuk terus memegang impiannya. Selama di penjara Joon Ho mencoba melindungi sahabatnya.


Selain lucu, ada juga bagian menegangkan. Masalah terbesar Je Hyuk di penjara adalah orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dari dia. Termasuk kepala sipir penjara yang memerasnya. Ada juga yang ingin mendapatkan popularitas dengan meminta Je Hyuk wawancara dengan wartawan. Begitu juga penjahat lain yang masih bisa berbuat jahat meskipun sedang di penjara untuk menebus kejahatannya. Dari memeras hingga preman yang ingin membalas dendam. Sepanjang drama 16 episode ini, kita akan dibuat khawatir terjadi sesuatu yang buruk kepada Je Hyuk.

Belum lagi perjuangan Je Hyuk untuk tetap bermain baseball. Jika tak berlatih maka ia akan jauh tertinggal. Belum lagi penyakit yang harus ia lawan selama di penjara. Je Hyuk yang pantang menyerah sampai harus mengumumkan pensiun dari baseball. Semua berusaha agar ia Je Hyuk mau kembali berlatih.

Buat penggemar drama korea, kalian harus nonton...
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Older Posts

About me

Hai. Namaku Nanda. Anaknya suka cerita lewat tulisan dan suka belajar tentang kehidupan. Terima kasih sudah mampir, ya!

Follow My Instagram

  • Instagram

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • ▼  2019 (4)
    • ▼  September (1)
      • Review Drama Arthdal Chronicles
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
  • ►  2018 (16)
    • ►  December (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (2)
    • ►  March (7)
    • ►  February (1)
  • ►  2016 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (2)
    • ►  November (2)
  • ►  2013 (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2012 (5)
    • ►  June (2)
    • ►  February (3)
  • ►  2011 (18)
    • ►  November (5)
    • ►  October (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (3)
  • ►  2010 (13)
    • ►  December (1)
    • ►  March (11)
    • ►  January (1)
  • ►  2009 (3)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2008 (1)
    • ►  December (1)

Subscribe To

Posts
Atom
Posts
All Comments
Atom
All Comments
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose